Karhutla Kalimantan Memburuk, Rumah Oksigen Muhammadiyah Layani Puluhan Warga
TVMU.TV - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan memicu kabut asap dan memperburuk kualitas udara. Di tengah kondisi tersebut, Muhammadiyah melalui One Muhammadiyah One Response (OMOR), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah, Lazismu, serta unsur Persyarikatan lainnya mengaktifkan layanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak terhadap 10.674.201 penduduk di tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Pada saat yang sama, sejumlah wilayah mencatat kualitas udara sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, misalnya, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 328 atau kategori berbahaya, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Sejumlah wilayah lain seperti Barito Selatan, Katingan, dan Tebo juga berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut terjadi ketika aktivitas karhutla masih tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan. BMKG juga mencatat peningkatan titik panas pada 25 Agustus 2026, masing-masing dari 92 menjadi 140 titik di Kalimantan Barat, 113 menjadi 352 titik di Kalimantan Tengah, dan 30 menjadi 63 titik di Kalimantan Timur. Sebaran asap terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan dan berpotensi terbawa angin ke wilayah sekitarnya.
Muhammadiyah Aktifkan Rumah Oksigen
Merespons situasi tersebut, relawan Muhammadiyah di Kalimantan Tengah melakukan berbagai layanan kemanusiaan melalui program Indonesia Siaga. Layanan yang disiapkan mencakup Rumah Oksigen, mobil oksigen, layanan kesehatan lapangan, pembagian masker, dukungan nutrisi, hingga edukasi kepada masyarakat.
Ketua Lazismu Kalimantan Tengah Muhammad Fitriani mengatakan Pos Komando dan Koordinasi terus melakukan pendataan sekaligus memastikan layanan kemanusiaan berjalan bagi masyarakat terdampak.
“Rumah Oksigen di Kalimantan Tengah beroperasi mulai pukul 08.00–16.00 WIB. Lokasinya berada di Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan RTA Milono KM 1,5, Palangka Raya,” ujar Fitriani, Senin (31/8).
Layanan tersebut menjadi bagian dari respons Muhammadiyah terhadap dampak kesehatan akibat paparan asap. Sebelumnya, Muhammadiyah juga telah mengaktifkan rumah singgah oksigen di sejumlah lokasi serta menyiagakan mobil oksigen keliling di titik-titik strategis.
Fitriani menyebut relawan yang terlibat berasal dari unsur pimpinan, ‘Aisyiyah, dan organisasi otonom (ortom). Sebanyak 10 relawan bertugas dalam pemadaman, 60 relawan di bidang medis, 30 relawan menangani logistik, dan 15 relawan bertugas di Pos Komando dan Koordinasi (Poskor).
Berdasarkan laporan layanan Rumah Singgah Oksigen Muhammadiyah, hingga 30 Agustus 2026 tercatat tujuh warga dengan gangguan pernapasan telah mendapatkan layanan. Sementara itu, hingga 31 Agustus 2026, jumlah penerima manfaat Rumah Oksigen Muhammadiyah mencapai 53 orang.
Relawan Juga Turun ke Lokasi Karhutla
Respons Muhammadiyah tidak hanya menyasar warga yang terdampak asap. Relawan juga diterjunkan untuk membantu penanganan karhutla, termasuk pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik.
Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Tengah Heru Setiawan mengatakan keberadaan Pos Komando dan Koordinasi merupakan bagian dari gerakan respons bencana Muhammadiyah terhadap karhutla yang dilakukan melalui koordinasi lintas unsur Persyarikatan.
“Kami berupaya menghadirkan layanan yang dapat langsung dirasakan masyarakat maupun para relawan yang berada di lapangan,” ujarnya.
Langkah Muhammadiyah tersebut berjalan di tengah upaya pemerintah menangani karhutla. BMKG mencatat operasi modifikasi cuaca untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla juga dilakukan di Kalimantan Tengah pada 26 Agustus–2 September 2026, dengan BNPB sebagai pengguna jasa. Operasi serupa juga dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Rumah Oksigen Disiapkan hingga 21 September
Ketua Poskor Muhammadiyah Kalimantan Tengah Inayati Muharini mengatakan Pos Komando dan Koordinasi Muhammadiyah telah diaktifkan sejak sepekan sebelum pernyataan tersebut disampaikan. Posko direncanakan beroperasi hingga Senin (21/9/2026).
“Masa operasional tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan serta status tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah,” kata Inayati.
Selain layanan kesehatan dan oksigen, Lazismu Kalimantan Tengah masih menghimpun dukungan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di lapangan. Di antaranya tabung oksigen, masker N95, obat-obatan dan vitamin, alat pelindung diri (APD) bagi relawan, nutrisi, serta peralatan pemadam kebakaran.
Dengan kualitas udara yang masih berisiko di sejumlah wilayah dan aktivitas karhutla yang belum sepenuhnya mereda, respons kemanusiaan menjadi penting untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat sekaligus menjaga keselamatan relawan yang bekerja di lapangan.