Tiga Pekan di Garis Depan Bencana NTT, PP Muhammadiyah Apresiasi Pengorbanan Para Relawan

Tiga Pekan di Garis Depan Bencana NTT, PP Muhammadiyah Apresiasi Pengorbanan Para Relawan
PP Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang hampir tiga pekan menjalankan misi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di NTT. Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang hampir tiga pekan menjalankan misi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejumlah relawan bahkan harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas profesional untuk memberikan pelayanan di wilayah bencana.

Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief mengatakan pengabdian para relawan bukan pekerjaan ringan. Menurutnya, kesinambungan penugasan menjadi penting agar pelayanan kemanusiaan tetap berjalan ketika satu kelompok relawan menyelesaikan masa tugas dan digantikan oleh tim berikutnya.

“Atas nama PP Muhammadiyah, saya ucapkan terima kasih atas seluruh proses yang berjalan tiga minggu di lapangan. Bukan perkara yang mudah. Alhamdulillah, saya dengar teman-teman relawan yang lain telah datang untuk mengganti shift. Ini momentum yang baik untuk kita menjaga kontinuitas,” ujar Hilman di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT pada Ahad (6/9). 

Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak di sejumlah wilayah NTT. Dalam respons kemanusiaan tersebut, Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), bersama Lazismu dan berbagai unsur Persyarikatan, mengerahkan layanan kesehatan, logistik, serta pelayanan kemanusiaan lainnya. 

Relawan Tinggalkan Pekerjaan untuk Melayani Penyintas

Hilman menilai pengabdian relawan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari komitmen kemanusiaan. Ia menyebut sejumlah relawan yang diterjunkan merupakan tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis, yang harus meninggalkan tempat praktik selama menjalankan misi di NTT.

“Relawan-relawan ini meninggalkan pekerjaannya. Dokter-dokter spesialis yang praktik, mereka tinggalkan selama tiga minggu,” katanya.

Menurut Hilman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan pengorbanan personal sekaligus kekuatan kolektif. Dalam tradisi kebencanaan Muhammadiyah, relawan didorong untuk bergerak cepat ketika bencana terjadi dan tetap berada di lapangan hingga pelayanan dapat dilanjutkan oleh tim berikutnya.

Semangat tersebut, kata Hilman, sejalan dengan pesan Al-Qur’an wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā tentang pentingnya saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.

Ia juga mengaitkannya dengan pesan Surah Al-Balad mengenai al-‘aqabah, yakni jalan yang berat. Pesan tersebut dinilai relevan dengan kerja kemanusiaan yang menuntut keberanian untuk mengambil tindakan nyata, mulai dari memenuhi kebutuhan masyarakat hingga membantu kelompok rentan.

“Kita tidak bicara pribadi. Alhamdulillah, Muhammadiyah dan tentu organisasi keagamaan yang lain memperkuat level itu sehingga kita menjadi gerakan kolektif,” ujarnya.

EMT Muhammadiyah Dibangun Sejak 2018

Kesiapan relawan Muhammadiyah, lanjut Hilman, merupakan hasil proses panjang. Konsolidasi dilakukan bersama MDMC, Lazismu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), serta berbagai unsur Persyarikatan.

Salah satu penguatan kapasitas tersebut dilakukan melalui pengembangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang dipersiapkan sejak 2018. Pengembangan EMT mencakup peningkatan pengetahuan dan keterampilan, prosedur operasional, sertifikasi, hingga kesiapan mental relawan dalam menghadapi situasi kedaruratan.

“Kami tidak ingin semangat kawan-kawan ini terhambat hanya karena masalah administrasi,” jelas hilman.

Dalam respons gempa NTT, EMT Muhammadiyah juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan di Dampek. Muhammadiyah sebelumnya mengerahkan EMT Type-1 Fixed beranggotakan 50 personel dan mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek yang terdampak gempa. Tim tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026. 

Selain itu, EMT Muhammadiyah yang telah melalui proses verifikasi berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga dikerahkan untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak. 

Data PP Muhammadiyah hingga 3 September 2026 mencatat layanan kesehatan Muhammadiyah telah menangani 7.225 penyintas bencana NTT. Pada saat yang sama, Lazismu menghimpun dana respons bencana sebesar Rp6,099 miliar, dengan lebih dari Rp3,455 miliar telah disalurkan untuk mendukung layanan kemanusiaan di lapangan. 

Kerja Kemanusiaan Harus Berlanjut

Hilman menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama yang dibangun selama bertahun-tahun. Kapasitas MDMC, tenaga kesehatan, relawan, serta dukungan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari respons Muhammadiyah terhadap bencana.

Menurutnya, kerja kemanusiaan juga tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir. Proses pemulihan masyarakat terdampak membutuhkan pendampingan dan dukungan dalam jangka lebih panjang.

Karena itu, PP Muhammadiyah turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan berbagai pihak yang membantu penanganan bencana di NTT.

“Misi keagamaan dan kemanusiaan itu perlu kerja keras yang luar biasa. Kalau tidak kuat dan tidak kolektif tentu akan berat. Kita ingin membangun persaudaraan kemanusiaan yang kuat dari proses yang kita jalankan,” pungkasnya. 

Dengan pengalaman hampir tiga pekan di lapangan, pergantian relawan menjadi bagian penting untuk memastikan pelayanan tetap berlangsung. Bagi Muhammadiyah, keberlanjutan tersebut bukan hanya persoalan teknis penugasan, tetapi juga bagian dari upaya membangun gerakan kemanusiaan yang terorganisasi, profesional, dan mampu mendampingi penyintas hingga memasuki tahap pemulihan.