Muhammadiyah Perkuat Kompetensi Chef SPPGM Lewat Sertifikasi

Muhammadiyah Perkuat Kompetensi Chef SPPGM Lewat Sertifikasi
BPPGM memperkuat standar pengelolaan dapur SPPGM melalui Pelatihan dan Uji Kompetensi Sertifikasi Chef secara virtual melalui Zoom, Kamis (3/9/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) memperkuat standar pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (SPPGM) melalui Pelatihan dan Uji Kompetensi Sertifikasi Chef. Kegiatan yang digelar secara virtual melalui Zoom pada Kamis (3/9/2026) tersebut diarahkan untuk memastikan tenaga pengolah makanan memiliki kompetensi dan sertifikasi yang sesuai.

Program sertifikasi ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah membangun layanan pemenuhan gizi yang tidak hanya berorientasi pada tersedianya makanan, tetapi juga memperhatikan mutu, keamanan pangan, serta profesionalisme tenaga yang mengolahnya. 

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman yang hadir dalam kegiatan tersebut mengingatkan para peserta agar memandang pekerjaan sebagai bagian dari ibadah. Menurutnya, prinsip tersebut penting agar setiap tugas dilaksanakan secara benar dan mengikuti tata cara serta standar yang telah ditetapkan.

Agus menyambut baik penyelenggaraan sertifikasi bagi chef SPPGM. Ia menilai sertifikasi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan standar kerja sekaligus profesionalisme dalam pengelolaan dapur.

Chef Berperan Menjaga Mutu Makanan

Bagi Agus, tanggung jawab chef tidak berhenti pada kemampuan mengolah makanan. Setiap proses yang berlangsung di dapur turut menentukan kualitas makanan yang kemudian diterima masyarakat.

Ia mengaitkan tanggung jawab tersebut dengan konsep makanan yang halal dan tayib dalam ajaran Islam. Menurutnya, halal dan tayib tidak hanya berkaitan dengan cara memperoleh makanan, tetapi juga kualitas dan kandungan gizi yang memberikan manfaat bagi tubuh penerima.

“Halal dan tayib itu bukan hanya sekadar bagaimana makanan itu diperoleh, tetapi juga bagaimana makanan tersebut memiliki kandungan gizi yang baik dan memberikan dampak positif bagi tubuh penerimanya,” jelas Agus.

Karena itu, Agus meminta para chef SPPGM menjadikan sertifikasi bukan sekadar persyaratan administratif. Proses tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas, mutu, dan profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan.

Pesan tersebut sejalan dengan penguatan standar kompetensi juru masak yang sebelumnya juga dilakukan BPPGM. Pada 30 Agustus 2026, sebanyak 48 juru masak dari berbagai daerah mengikuti uji sertifikasi kompetensi juru masak Makan Bergizi Muhammadiyah (MBM) di SPPG Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. 

Bekerja dengan Itqan

Agus kemudian menekankan pentingnya itqan, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh dan mencapai standar kualitas terbaik. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pengelolaan layanan pemenuhan gizi yang menuntut ketelitian dan konsistensi.

“Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang apabila ia bekerja, bekerja dengan itqan. Itqan sering dimaknai dengan standar kebaikan tertinggi, atau dalam dunia kerja disebut profesional,” pungkas Agus.

Penguatan kompetensi chef menjadi salah satu bagian dari tata kelola SPPGM yang terus dikembangkan Muhammadiyah. Sebelumnya, BPPGM menegaskan bahwa ekosistem layanan pemenuhan gizi Muhammadiyah dibangun dengan tiga pilar, yakni keamanan pangan, tata kelola yang amanah dan profesional, serta ekosistem berkelanjutan. 

BPPGM sendiri dibentuk PP Muhammadiyah melalui SK Nomor 127/KEP/I.0/B/2026 sebagai lembaga yang diarahkan mengelola pelayanan dan pemenuhan gizi secara berkelanjutan. 

Dengan demikian, sertifikasi chef ditempatkan bukan hanya sebagai pengakuan atas kompetensi tenaga pengolah makanan, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga standar layanan SPPGM dari dapur hingga makanan diterima penerima manfaat.