Muhadjir Effendy Dorong Muhammadiyah Bangun Kekuatan Ekonomi Mandiri

Muhadjir Effendy Dorong Muhammadiyah Bangun Kekuatan Ekonomi Mandiri
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy dalam Hari Bermuhammadiyah (HBM) PWM DKI Jakarta di Aula Ir. Djuanda, lantai 5 Kantor PWM DKI Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Besarnya kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah dinilai harus diimbangi dengan kemampuan Persyarikatan membangun kekuatan ekonomi yang mandiri. Muhammadiyah tidak dapat terus mengandalkan sumbangan, hibah, maupun wakaf untuk membiayai pengembangan organisasi dan memperluas pelayanan kepada masyarakat.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menyampaikan hal tersebut dalam Hari Bermuhammadiyah (HBM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta di Aula Ir. Djuanda, lantai 5 Kantor PWM DKI Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Muhadjir, kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah antara lain tercermin dari banyaknya masyarakat yang menyerahkan tanah dan aset untuk dikelola Persyarikatan. Bahkan, kata dia, terdapat masyarakat nonmuslim yang turut mewakafkan asetnya kepada Muhammadiyah.

“Kita bersyukur Muhammadiyah memiliki trust yang sangat baik. Tidak sedikit orang nonmuslim yang mewakafkan tanahnya untuk Muhammadiyah. Umat Islam yang bukan warga Muhammadiyah juga banyak yang berwakaf,” ungkapnya.

Namun, Muhadjir mengingatkan agar besarnya kepercayaan tersebut tidak membuat Muhammadiyah hanya berada pada posisi sebagai penerima manfaat wakaf. Sebaliknya, Persyarikatan perlu membangun kemampuan untuk menjadi pihak yang mampu memberi dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Jangan Hanya Menjadi Penerima Wakaf

Muhadjir menilai semangat kemandirian harus menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah ke depan. Menurutnya, ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal dapat membatasi ruang gerak Persyarikatan dalam mengembangkan organisasi dan memperluas dakwah.

“Kita suka diberi wakaf, tetapi kita sendiri tidak pernah berwakaf. Saya kira itu tidak sesuai dengan prinsip Muhammadiyah, al-yadul ‘ulya khairun minal yadis-sufla, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Prinsip tersebut, kata Muhadjir, perlu diterjemahkan dalam kehidupan organisasi. Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki jaringan amal usaha dan aset wakaf, tetapi juga harus mampu membangun sumber-sumber ekonomi produktif.

Karena itu, kemandirian ekonomi disebutnya sebagai kebutuhan penting bagi keberlanjutan Persyarikatan. Kekuatan ekonomi akan memberikan ruang lebih besar bagi Muhammadiyah untuk menjalankan dakwah, mengembangkan amal usaha, serta memberikan pelayanan sosial tanpa terlalu bergantung pada sumbangan.

“Kita tidak bisa membangun Muhammadiyah ke depan hanya dengan mengandalkan sumbangan, wakaf, hibah, dan seterusnya. Kita harus mandiri dan mampu membangun kekuatan ekonomi sendiri agar semakin disegani serta semakin bisa berekspansi,” tegasnya.

UMKM hingga Jaringan Ritel

Muhadjir menyebut pembangunan ekonomi Muhammadiyah dapat dimulai dari penguatan usaha yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri.

Selain UMKM, Persyarikatan dapat mendorong pendirian fasilitas produksi dan membangun jaringan ritel. Jika dikelola dalam sebuah ekosistem usaha, berbagai unit tersebut dapat saling terhubung dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.

Jakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu titik awal pengembangan jaringan ekonomi tersebut. Dengan karakter sebagai pusat aktivitas ekonomi dan bisnis, Jakarta dapat menjadi simpul yang menghubungkan berbagai potensi usaha Muhammadiyah dari daerah lain.

Gagasan tersebut sekaligus menggeser cara pandang terhadap aset dan jaringan Muhammadiyah. Aset tidak hanya dipertahankan sebagai kekayaan organisasi, tetapi dapat dikembangkan secara produktif dengan tetap memperhatikan prinsip tata kelola, kemanfaatan, dan tujuan Persyarikatan.

Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat yang telah terbangun selama perjalanan Muhammadiyah perlu dijawab dengan kapasitas organisasi untuk berdiri semakin mandiri. Wakaf dan sumbangan tetap memiliki posisi penting dalam gerakan filantropi, tetapi kekuatan ekonomi produktif diperlukan agar Persyarikatan memiliki sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Dengan kekuatan ekonomi yang semakin kokoh, Muhammadiyah diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan amal usaha yang telah berkembang, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi masyarakat dan memperkuat perannya sebagai gerakan Islam berkemajuan.