Muhammadiyah Layani 7.225 Penyintas Gempa NTT, Dana Kemanusiaan Terkumpul Rp6,09 Miliar
TVMU.TV - Respons kemanusiaan Muhammadiyah terhadap gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut. Hingga 3 September 2026, layanan kesehatan Muhammadiyah melalui Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menangani 7.225 penyintas di wilayah terdampak.
Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu juga mengoperasikan pos koordinasi, dapur umum, layanan psikososial, sanitasi, air bersih, serta menyalurkan berbagai bantuan logistik. Respons tersebut dilakukan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB. Episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dinyatakan berakhir.
Dalam respons bencana tersebut, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Kabupaten Ende. Pos ini menjadi pusat perencanaan, koordinasi, dan evaluasi layanan kemanusiaan.
Hingga 4 September 2026, Muhammadiyah juga telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten terdampak serta 10 Pos Pelayanan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan.
7.225 Penyintas Mendapat Layanan Kesehatan
Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengerahkan EMT Type-1 Fixed yang terdiri atas 50 personel. Tim tersebut mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim EMT Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026. Sementara itu, EMT Mobile dikerahkan untuk menjangkau lokasi pengungsian yang tidak terjangkau layanan kesehatan tetap, dengan melibatkan tenaga medis dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia.
Hingga 3 September, layanan kesehatan Muhammadiyah tercatat telah menangani 7.225 penyintas.
Dari pemeriksaan di rumah sakit lapangan, sejumlah diagnosis yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan sebanyak 437 kasus, nyeri otot dan pegal-pegal 372 kasus, hipertensi 233 kasus, rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut 186 kasus, serta sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk sebanyak 153 kasus.
Angka tersebut menunjukkan kebutuhan layanan kesehatan pascabencana tidak berhenti pada penanganan korban luka. Penyintas juga membutuhkan pelayanan terhadap berbagai gangguan kesehatan yang muncul selama berada dalam situasi pascabencana.
Dapur Umum hingga Layanan Psikososial
Respons Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada kesehatan. Dalam klaster nonkesehatan, dapur umum telah melayani 1.750 jiwa.
Muhammadiyah juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa. Layanan tersebut menjadi bagian penting dalam membantu penyintas melewati masa tanggap darurat dan awal pemulihan.
Dukungan logistik turut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Bantuan yang diberikan meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng RendangMu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Dukungan obat-obatan juga diberikan oleh tim EMT Mobile dari Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bertugas di lapangan.
Lazismu Himpun Rp6,09 Miliar
Di sisi pendanaan, Lazismu menghimpun donasi melalui program Indonesia Siaga untuk mendukung respons gempa bumi NTT.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026. Surat tersebut menginstruksikan masjid-masjid Muhammadiyah melakukan penggalangan infak Salat Jumat bagi korban gempa NTT.
Penggalangan infak dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Hingga 3 September 2026, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di NTT.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan apresiasi kepada para relawan, donatur, dan jamaah Salat Jumat yang ikut mendukung respons kemanusiaan tersebut.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan”, kata Barry Adhitya, Direktur Utama Lazismu, pada Jum’at (4/9/2026).
Barry mengatakan penyaluran dana akan terus dipantau dan dievaluasi agar dukungan masyarakat dapat digunakan secara optimal dalam proses pemulihan.
Lazismu juga menyiapkan keberlanjutan program hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dengan tujuan membantu membangun kembali ketangguhan masyarakat terdampak.
“Insyaallah, dukungan ini akan terus dilanjutkan untuk membangun ketangguhan masyarakat dan membantu penyintas bangkit dari dampak bencana,” imbuhnya.
Respons tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak selesai ketika fase tanggap darurat berakhir. Setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, penyintas masih membutuhkan layanan kesehatan, dukungan psikososial, pemulihan fasilitas dasar, hingga pendampingan menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu pun memastikan layanan kemanusiaan di NTT terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
