Busyro Muqoddas Ajak Perkuat Kesalihan Sosial dan Tolak Politik Uang

Busyro Muqoddas Ajak Perkuat Kesalihan Sosial dan Tolak Politik Uang
Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas dalam kajian Ramadan di Masjid Siti Walidah, UNISA Yogyakarta, Gamping, Kabupaten Sleman, Sabtu (28/2). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa kesalihan sosial merupakan konsekuensi dari tauhid yang murni dan fungsional. Penegasan itu disampaikannya dalam kajian Ramadan di Masjid Siti Walidah, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Gamping, Kabupaten Sleman, Sabtu (28/2).

Busyro menjelaskan, dalam pandangan Muhammadiyah, tauhid tidak berhenti pada hafalan atau retorika, melainkan harus melahirkan sikap hidup yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, termasuk praktik politik yang tidak bermoral.

Menurutnya, prinsip kesalihan sosial bertumpu pada keyakinan bahwa hanya Allah Swt. yang berhak disembah. Dari prinsip tersebut lahir komitmen untuk menolak segala bentuk “tuhan-tuhan kecil” yang merendahkan martabat manusia, termasuk praktik suap dalam kontestasi politik.

“Suap itu menurut Al Qur’an dan menurut Hadis itu fi naar. Oleh karena itu kalau ada pemimpin politik, pemimpin negara,….. Jika mereka lahir dari proses-proses suap menyuap, itu bukan pemimpin yang salih,” tegasnya.

Ia menilai, pemimpin yang memiliki kesalihan sosial tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat. Kesalehan, kata dia, harus tercermin dalam keberpihakan pada rakyat dan penguatan institusi negara yang menjamin keadilan.

Busyro mengingatkan bahwa praktik politik uang masih menjadi persoalan serius dalam sistem demokrasi lima tahunan di Indonesia. Karena itu, ia mengajak warga Muhammadiyah dan umat Islam untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana memperkuat pendidikan moral, termasuk menanamkan nilai kesalihan sosial kepada generasi muda.

“Pemimpin yang akan datang ini harus kita usahakan berubah pada tahun 2029 yang datang, pemilu yang datang. Jangan sampai terulang lagi pemimpin yang dimenangi dalam pemilu itu menangnya karena duit,” ujarnya.

Selain menolak politik uang, Busyro juga berpesan agar para pemimpin hidup sederhana dan tidak menciptakan jarak dengan rakyat. Ia menyinggung fenomena pejabat daerah yang meminta fasilitas mewah, yang dinilainya berpotensi menjauhkan pemimpin dari masyarakat.

Melalui forum tersebut, Busyro berharap lahir generasi pemimpin masa depan yang memiliki integritas, kepekaan sosial, dan komitmen kuat terhadap keadilan, sehingga tauhid benar-benar terwujud dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.