Catatan Refleksi Akhir Tahun 2024, Muhammadiyah Soroti Persoalan Bangsa
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan beberapa catatan refleksi dalam rangka menutup tahun 2024 dan memproyeksikan tahun 2025 di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (30/12).
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan beberapa catatan refleksi dalam rangka menutup tahun 2024 dan memproyeksikan tahun 2025 di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (30/12).
Catatan refleksi itu berkaitan dengan beberapa persoalan yang belum terselesaikan selama tahun 2024.
Pertama, agama harus hadir sebagai kanopi suci, menjadi oase di tengah kegersangan rohani. Namun, semakin ke sini, agama cenderung tumpul dan hanya menjadi hiburan. Substansi agama seperti hakikat hidup sering terpinggirkan. Agama seharusnya difokuskan pada esensi, bukan sekadar hiburan artifisial di ruang publik.
Kedua, Haedar juga menyoroti sejumlah isu strategis nasional, termasuk komitmen pemberantasan korupsi. Ia menyatakan mendukung Presiden Prabowo untuk memastikan korupsi diberantas secara menyeluruh.
“Komitmen ini harus menjadi political will di semua lini pemerintahan, dari Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, hingga Pemda. KPK perlu diperkuat dengan integritas tinggi untuk menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi,” jelasnya.
Ketiga, Haedar menyinggung perlunya konsolidasi demokrasi pasca-Pemilu 2024. Dia menyoroti tantangan seperti politik uang dan kurangnya moralitas pejabat sipil. Menurutnya, demokrasi harus lebih substantif dan menjadi kesadaran seluruh perangkat negara. Kemudian, proses demokratisasi harus diperkuat agar tidak hanya bersifat prosedural.
Keempat, terkait Pilkada 2024, Haedar memberikan pesan penting bagi kepala daerah agar memimpin dengan moralitas dan tanggung jawab tinggi. Guru besar ilmu sosiologi ini mengingatkan agar kepala daerah tidak terjerumus dalam korupsi, gratifikasi, politik balas jasa, atau pemberian konsesi lahan yang merugikan rakyat.
Kelima, Haedar mengingatkan pentingnya kebijakan publik yang pro-rakyat. Ia meminta pemerintah untuk lebih cermat dalam mengambil kebijakan yang menimbulkan pro-kontra di masyarakat.
“Belajar dari periode sebelumnya, energi bangsa terlalu banyak habis untuk bertengkar soal kebijakan. Saatnya melangkah dengan keseksamaan dan mengutamakan harapan masyarakat,” pesannya.
Diakhir refleksinya, Haedar mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan masa depan lebih baik dengan langkah-langkah yang penuh kesadaran moral. Refleksi ini diharapkan menjadi pijakan kuat dalam menyambut tahun 2025.
Saksikan Tayangan Dialektika tvMu 'PPN 12 Persen Dikaji Ulang'