Dadang Kahmad: Jangan Terpaku Sekolah Favorit, Pendidikan Karakter dan Peran Orang Tua Lebih Menentukan
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan para orang tua agar tidak menjadikan sekolah favorit sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan anak. Menurutnya, kualitas pendidikan ditentukan oleh sinergi antara sekolah, keluarga, dan motivasi belajar yang tumbuh dari dalam diri peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Dadang dalam tayangan podcast tvMu yang disiarkan pada Ahad (26/7/2026). Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi penting untuk membangun masa depan sekaligus menjadi sarana meningkatkan kualitas hidup seseorang.
“Sudah sewajarnya kita mencari sekolah yang baik untuk anak-anak, agar anak-anak kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik,” ujarnya.
Dadang menjelaskan, Islam menempatkan pendidikan sebagai kewajiban setiap muslim. Karena itu, setiap orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Ia juga menilai pendidikan masih menjadi salah satu instrumen utama mobilitas sosial. Melalui pendidikan, seseorang memiliki peluang memperbaiki kondisi ekonomi dan meningkatkan taraf hidup.
“Keluarga yang tadinya belum berkecukupan, bisa berubah menjadi berkecukupan dengan pendidikan,” ungkapnya.
Meski demikian, Dadang mengingatkan masyarakat agar tidak berkecil hati apabila anak tidak diterima di sekolah favorit. Menurutnya, keterbatasan daya tampung membuat tidak semua peserta didik dapat mengakses sekolah yang dianggap unggulan.
“Padahal para orang tua tidak perlu berkecil hati jika anaknya tidak masuk sekolah favorit. Semua sekolah itu baik, tergantung bagaimana support yang diberikan dari orang tua juga,” katanya.
Menurut Dadang, keberhasilan pendidikan justru sangat dipengaruhi pola pengasuhan di rumah. Orang tua memiliki peran besar dalam menjaga semangat belajar anak, termasuk mengarahkan penggunaan gawai agar tidak mengganggu proses belajar.
Di sisi lain, ia menilai sekolah tetap memegang peranan penting karena menjadi tempat peserta didik mengembangkan kemampuan akademik sekaligus keterampilan sosial.
“Kemampuan berteman dan berkomunikasi itu juga penting untuk dimiliki. Oleh karena itu, para orang tua seharusnya tidak perlu menunggu sekolah favorit baru menyekolahkan anak,” ujarnya.
Dadang mengakui fasilitas pendidikan dapat mendukung proses pembelajaran. Namun, menurutnya, faktor tersebut bukan penentu utama keberhasilan seorang siswa.
“Tapi bukan berarti menjadi mutlak, fasilitas sekolah itu hanya penunjang. Hal paling penting justru keinginan kuat dalam diri murid untuk belajar. Dan itu hal yang perlu ditumbuhkan oleh orang tua, sekolah dan masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan banyak tokoh Indonesia yang berhasil meski menempuh pendidikan dengan fasilitas yang sederhana. Kunci keberhasilan mereka, kata Dadang, terletak pada motivasi belajar yang kuat.
Dalam kesempatan itu, Dadang juga menjelaskan konsep pendidikan di sekolah Muhammadiyah yang mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter melalui mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
“Materi itu akan memberikan soft skill. Yaitu mengajarkan para murid untuk berakhlak baik nantinya,” ujarnya.
Mengutip teori Need for Achievement (n-Ach) yang diperkenalkan psikolog David C. McClelland dalam bukunya The Achieving Society, Dadang menyebut keberhasilan seseorang sangat dipengaruhi motivasi intrinsik untuk berprestasi.
“Itu bisa didapatkan dari materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Karena Muhammadiyah menginginkan mereka bisa seimbang antara pengetahuan kognisi dan karakternya,” katanya.
Ia menegaskan, lulusan Muhammadiyah diharapkan memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kekuatan fisik, dan karakter yang baik.
“Lulusan Muhammadiyah harus menjadi orang yang ilmunya kuat, jasmaninya kuat dan karakternya bagus,” ujarnya.
Selain penguasaan ilmu, Dadang menilai kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kreatif, berinovasi, serta memiliki passion menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi dunia kerja.
Menutup perbincangan, Dadang kembali menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter anak.
“Saya kira itu menjadi penting di era modern ini. Maka para orang tua, jangan biarkan anak kita tidak sekolah. Tidak harus sekolah favorit, karena hasilnya juga akan ditentukan oleh sinkronisasi itu tadi,” pungkasnya.