Dari Badui hingga Anak Jalanan, Dakwah Muhammadiyah Hadirkan Pencerahan Inklusif
TVMU.TV - Gerakan dakwah Muhammadiyah kini kian merangkul kelompok masyarakat di berbagai lapisan, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil dan komunitas marjinal seperti anak jalanan, eks Pekerja Seks Komersial (PSK), hingga komunitas anak punk.
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Arifin, menuturkan bahwa pendekatan ini merupakan bentuk komitmen Muhammadiyah dalam menghadirkan dakwah yang inklusif, menggembirakan, dan mencerahkan bagi semua kalangan.
“Inilah yang merupakan sasaran dakwah kami. Melalui usaha ini, kami mencoba menghadirkan dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan untuk semua kalangan,” ujar Arifin dalam podcast Muhammadiyah Channel bertajuk “Dakwah Muhammadiyah Sentuh Kaum Marjinal” yang tayang, Sabtu (1/11).
Arifin menjelaskan, dakwah Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Salah satu contohnya ialah program pemberdayaan mualaf Suku Badui, yang telah berlangsung cukup lama.
“Kita cukup lama membina para mualaf Suku Badui melalui program pemberdayaan mualaf. Dalam membina mereka, kami tidak cukup hanya menuntun syahadat, tauhid, wudhu, dan salat. Namun juga bagaimana agar mereka bisa hidup sejahtera dan setara dengan masyarakat lain,” jelasnya.
Melalui program tersebut, para mualaf di pedalaman dibekali berbagai keterampilan dasar seperti bercocok tanam, mengelola sumber daya alam sekitar, memperoleh akses penerangan, serta membangun kegiatan ekonomi sederhana agar mampu hidup mandiri.
Tak hanya di Badui, model dakwah berbasis pemberdayaan juga diterapkan di berbagai daerah lain seperti Kalimantan, NTT, dan NTB.
“Tidak hanya di Badui, kami juga memberdayakan masyarakat di beberapa daerah seperti Kalimantan, NTT, dan NTB. Bahkan, jika ada non-muslim yang ingin bergabung di kegiatan kami, maka kami juga turut memberikan fasilitas kepada mereka,” ujarnya.
Menurut Arifin, dakwah Muhammadiyah menolak pendekatan yang memaksa. Sebaliknya, dakwah dilakukan dengan semangat toleransi, kemanusiaan, dan pemberdayaan, sehingga mampu menumbuhkan kemandirian dan keadilan sosial.
“Model dakwah seperti inilah yang menjadi ciri khas Muhammadiyah, yakni dakwah yang mengedepankan nilai toleransi tanpa paksaan, namun juga menghadirkan pencerahan dan menumbuhkan semangat kemanusiaan,” tegasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, LDK PP Muhammadiyah berupaya memastikan bahwa dakwah Islam berkemajuan dapat dirasakan secara nyata oleh semua golongan, termasuk masyarakat suku pedalaman dan kaum marjinal di seluruh pelosok negeri.