Ketua Majelis Tabligh: Bangsa Majemuk Butuh Nurani Jernih di Tengah Polarisasi Politik
TVMU.TV - Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, mengingatkan pentingnya kejernihan nurani dan kejujuran dalam menjaga kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia yang majemuk. Pesan tersebut disampaikan dalam acara Silaturahmi Idulfitri 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta di Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Menurut Fathurrahman, dinamika politik yang berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kecenderungan polarisasi yang berpotensi memecah persatuan bangsa. Ia menilai, hilangnya kejujuran dan kejernihan hati menjadi salah satu penyebab utama terjadinya perpecahan di tengah masyarakat.
Mengacu pada sejarah, ia mencontohkan hubungan antara Soekarno dengan tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Hamka. Meski sempat terjadi perdebatan tajam, mereka tetap menjunjung tinggi persaudaraan dan nilai keislaman sebagai perekat.
Ia menilai, teladan tersebut relevan untuk konteks Indonesia saat ini, di mana perbedaan pandangan politik kerap memicu konflik yang meluas. Bahkan, menurutnya, perbedaan kecil dapat menjadi pemicu retaknya persatuan jika tidak disikapi dengan bijak.
Dalam konteks keagamaan, Fathurrahman juga menyoroti menguatnya polarisasi akibat sentimen kelompok yang dipicu kebencian. Ia menyinggung fenomena global, termasuk konflik di Iran, yang kerap dijadikan rujukan untuk memperkuat perbedaan di dalam negeri.
“Tetapi sekarang perhatikan saudara kita selalu terbelah. Sangat sederhana bagi kita, pak. Ketika kezaliman itu terjadi, wacanannya bukan urusan akidah,” kata Fathurrahman.
Ia mengajak para mubalig Muhammadiyah untuk mengedepankan perspektif kemanusiaan dalam menyikapi berbagai persoalan, serta tidak terjebak pada narasi yang memperkeruh suasana.
Lebih lanjut, Fathurrahman menilai perkembangan media sosial turut mempercepat penyebaran narasi yang berpotensi merusak hubungan sosial. Menurutnya, kemudahan akses informasi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
“Kita kehilangan insight yang jernih. Bukan kita tidak punya referensi, bukan kita tidak punya rujukan, tetapi hati kita yang kotor,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan seharusnya menjadi bekal untuk menjaga integritas moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Spirit ibadah, kata dia, perlu terus dilanjutkan sebagai fondasi memperkuat persatuan dan harmoni bangsa.
Melalui momentum Idulfitri, Fathurrahman berharap masyarakat dapat kembali memperkuat ukhuwah, menjaga kejujuran, serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.