Syamsul Anwar Sebut Hamim Ilyas Sulit Digantikan, Muhammadiyah Kehilangan Pakar Tafsir dan Pemikir Islam

Syamsul Anwar Sebut Hamim Ilyas Sulit Digantikan, Muhammadiyah Kehilangan Pakar Tafsir dan Pemikir Islam
Keluarga besar Muhammadiyah masih diselimuti duka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, Sabtu (23/5/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Keluarga besar Muhammadiyah masih diselimuti duka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, Sabtu (23/5/2026).

Kepergian ulama dan cendekiawan Muhammadiyah tersebut dinilai meninggalkan kehilangan besar, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an dan pengembangan pemikiran Islam berkemajuan.

Dalam Takziyah Virtual yang digelar Ahad (24/5/2026), Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menyebut sosok Hamim Ilyas sebagai figur tenang, rendah hati, dan sulit tergantikan di lingkungan Muhammadiyah.

“Mudah-mudahan Bapak Haji Hamim Ilyas dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa, dan dilipatgandakan pahala atas amal baiknya,” ujar Syamsul.

Menurutnya, almarhum bukan tipe tokoh yang gemar menonjolkan diri. Namun, melalui pemikiran dan keilmuan yang dimilikinya, Hamim Ilyas mampu menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan kajian Islam di Muhammadiyah.

“Beliau adalah partner kerja yang tidak emosional, selalu tenang. Tidak pernah berkata kasar. Ini saya rasa menjadi bekal beliau menghadapi hari akhirat kelak,” katanya.

Syamsul menilai kehilangan Hamim Ilyas menjadi tantangan tersendiri bagi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Pasalnya, selama kepemimpinan almarhum, aktivitas tarjih dan pengembangan pemikiran Islam di Muhammadiyah berkembang cukup pesat.

“Majelis Tarjih juga harus bersabar, siap-siap mencari tokoh baru yang bisa menggantikan Pak Hamim Ilyas,” ujarnya.

Ia mengakui, sosok Hamim Ilyas memiliki kapasitas kuat dalam bidang tafsir Al-Qur’an serta pemikiran keislaman kontemporer. Karena itu, dibutuhkan figur yang mampu melanjutkan peran strategis tersebut di masa mendatang.

Dalam tausiyahnya, Syamsul juga mengajak keluarga dan warga Muhammadiyah untuk menghadapi musibah dengan kesabaran. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 45 serta ayat 155–156 tentang pentingnya sabar dan salat dalam menghadapi ujian kehidupan.

Menurut Syamsul, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan mengelola batin dalam menghadapi berbagai keadaan, baik kesulitan maupun kesenangan.

“Sabar itu bukan kemalasan, tidak bergerak dan tidak berbuat apa-apa, tetapi bagaimana mengelola batin kita dalam segala hal,” katanya.

Ia juga mengutip Surah Ali Imran ayat 200 yang dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah dipahami sebagai spirit memperkuat kesabaran dan keteguhan menghadapi tantangan.

“Dalam hidup seorang mukmin itu tidak ada kata ‘saya sudah habis kesabarannya’. Sabar harus terus-menerus ditingkatkan,” tegasnya.

Selain dikenal sebagai ulama tarjih, Hamim Ilyas juga meninggalkan sejumlah gagasan pemikiran Islam yang berkembang di Muhammadiyah. Salah satu yang disorot Syamsul ialah konsep “Fikih Akbar” yang diperkenalkan almarhum.

“Menurut beliau, fikih itu seluruh aspek ajaran Islam, bukan hanya aspek hukum-hukum konkret,” ujar Syamsul.

Ia menegaskan, warisan ilmu dan pemikiran Hamim Ilyas perlu terus dikembangkan oleh kader dan warga Muhammadiyah sebagai bagian dari amal jariyah yang tidak terputus.

Takziyah virtual tersebut diikuti pimpinan Muhammadiyah, kader, akademisi, serta warga persyarikatan dari berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum Prof. Hamim Ilyas.