Saad Ibrahim Ajak Umat Jadikan Al-Qur’an sebagai Penyejuk Jiwa
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun kesehatan jiwa. Menurutnya, jiwa yang sehat akan melahirkan sikap optimistis sekaligus menjadi fondasi bagi kesehatan fisik.
Pesan tersebut disampaikan Saad dalam tayangan tausiah yang disiarkan melalui kanal tvMU, Selasa (7/7/2026).
Saad mengawali tausiahnya dengan mengingatkan bahwa kesehatan merupakan harapan setiap manusia. Ia menyinggung penggalan lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, yang menurutnya menunjukkan bahwa pembangunan jiwa ditempatkan lebih dahulu daripada pembangunan fisik.
Ia menegaskan, Islam telah memberikan tuntunan untuk membangun jiwa yang sehat melalui ajaran Al-Qur’an.
“Salah satu kriteria jiwa yang sehat adalah jiwa yang optimistis, tidak pesimistis, serta tidak memberi ruang bagi hasad, iri, dan dendam. Itulah yang diajarkan dalam Islam,” ujar Saad.
Menurut Saad, ungkapan Latin mens sana in corpore sano yang berarti “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” juga dapat dipahami dari sudut pandang sebaliknya, yakni kesehatan jiwa menjadi dasar bagi terciptanya kesehatan fisik.
“Karena itu, untuk memperoleh kesembuhan, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an memberikan tuntunan tentang hal tersebut,” katanya.
Dalam penjelasannya, Saad menguraikan bahwa kata syifa’ (الشِّفَاء) dalam Al-Qur’an memiliki makna penyembuhan sekaligus kesembuhan. Ia menyebut istilah tersebut tercantum dalam empat ayat Al-Qur’an, yakni Surah Yunus ayat 57, An-Nahl ayat 69, Al-Isra ayat 82, dan Fussilat ayat 44.
Menurutnya, tiga ayat menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai penyembuh bagi jiwa, sedangkan satu ayat lainnya menerangkan madu sebagai obat.
“Maknanya, Al-Qur’an menjadi syifa’ bagi jiwa. Membaca Al-Qur’an akan menenangkan dan menyembuhkan jiwa, yang kemudian berdampak pada kesehatan fisik,” jelasnya.
Saad mengingatkan bahwa setiap muslim telah membaca Al-Qur’an dalam salat. Namun, ia mendorong agar kebiasaan tersebut diperluas dengan membaca Al-Qur’an secara rutin di luar waktu salat.
Ia mencontohkan, membaca satu juz Al-Qur’an hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jika seseorang membiasakan membaca dua juz setiap hari, maka ia dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam sebulan.
“Membaca Al-Qur’an secara tertib dan berkesinambungan akan memberikan pengaruh yang baik bagi kesehatan jiwa kita,” ujarnya.
Saad juga menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak seberat perjuangan Rasulullah SAW ketika menerima wahyu. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menjauh dari kitab suci tersebut.
“Al-Qur’an adalah kalamullah. Ketika ayat-ayatnya keluar dari lisan kita, itu akan memberikan kekuatan. Apa yang kita ucapkan dari kalam Allah akan menghadirkan energi dan keberkahan dalam hidup kita,” tuturnya.
Menutup tausiahnya, Saad mengajak umat Islam terus menghidupkan semangat ar-ruju’ ilal-Qur’an was-Sunnah atau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah. Menurutnya, membiasakan membaca kalam Allah akan membantu membentuk jiwa yang sehat, menghadirkan ketenangan dalam menjalani kehidupan, serta menjadi bekal untuk meraih husnul khatimah.