Tangis dan Doa Iringi Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno di Masjid Gedhe Kauman

Tangis dan Doa Iringi Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno di Masjid Gedhe Kauman
Ribuan warga Muhammadiyah, ’Aisyiyah, sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), serta masyarakat umum memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). Foto: Medkom PP Muhammadiyah.

TVMU.TV - Ribuan warga Muhammadiyah, ’Aisyiyah, sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), serta masyarakat umum memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, Ketua Umum Pimpinan Pusat ’Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010.

Kepergian tokoh perempuan Muhammadiyah tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Almarhumah dikenang sebagai akademisi, ulama intelektual, sekaligus kader Persyarikatan yang mengabdikan hidupnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan dakwah Islam Berkemajuan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut Prof. Siti Chamamah sebagai sosok ibu, guru bangsa, cendekiawan, dan tokoh Persyarikatan yang meninggalkan warisan keilmuan serta keteladanan bagi generasi penerus.

“Lahir pada tahun 1941, beliau adalah sosok yang sangat mencintai ilmu, suka berdiskusi, bahkan pandai berdebat dalam hal keilmuan. Keahlian akademisnya diakui secara luas, sangat teliti,” ujar Haedar saat memberikan sambutan pelepasan jenazah di Masjid Gedhe Kauman.

Haedar juga mengenang kedekatannya dengan almarhumah ketika sama-sama menjadi penguji disertasi di Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, Prof. Siti Chamamah selalu menghadirkan suasana akademik yang hangat, namun tetap kritis dan tajam dalam memberikan masukan kepada mahasiswa.

Ia juga menilai dedikasi almarhumah terhadap Muhammadiyah dan ’Aisyiyah merupakan teladan yang sulit tergantikan. Selama puluhan tahun berkiprah di Persyarikatan, Prof. Siti Chamamah dikenal menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.

“Kalau orang memberi amanah beliau selalu suka mencatat. Beliau juga selalu mengatakan Muhammadiyah itu hebat, ’Aisyiyah itu hebat karena pemikirannya yang maju melampaui zamannya, dan amaliahnya yang dirasakan langsung,” tutur Haedar.

Di dunia akademik, Prof. Siti Chamamah dikenal sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada dan pakar filologi serta sastra Melayu. Berbagai karya ilmiahnya menjadi rujukan penting dalam pengembangan studi filologi dan khazanah kebudayaan Indonesia.

Sementara di lingkungan Persyarikatan, rekam jejak pengabdiannya terbentang panjang. Ia pernah menjabat Ketua Umum Nasyiatul ’Aisyiyah, kemudian menjadi anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah periode 1995–2000, sebelum dipercaya memimpin Pimpinan Pusat ’Aisyiyah selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2010.

Di bawah kepemimpinannya, ’Aisyiyah memperkuat kiprahnya sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan melalui pengembangan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Usai prosesi penghormatan dan salat jenazah di Masjid Gedhe Kauman, jenazah diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karangkajen, Yogyakarta, untuk dimakamkan.

Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno tidak hanya menjadi kehilangan bagi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, tetapi juga bagi dunia pendidikan tinggi dan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Warisan pemikiran, keteladanan, serta semangat pengabdiannya akan terus menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi cendekiawan dan kader Persyarikatan di masa mendatang.