PRM Duren Seribu Kaji Buku Kuliah Akidah Islam, Perkuat Fondasi Keimanan Warga Muhammadiyah
TVMU.TV - Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Duren Seribu, Bojongsari, Kota Depok, menggelar pengajian rutin dengan membedah buku Kuliah Akidah Islam karya ulama Muhammadiyah almarhum Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Sabtu (20/6). Kajian yang menghadirkan Ketua PCM Bojongsari, Buya Zamah Sari, sebagai narasumber itu mengajak warga Muhammadiyah memperkuat fondasi akidah sebagai dasar menjalankan seluruh ajaran Islam.
Kegiatan yang berlangsung di RDM 1 tersebut dihadiri unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Depok, PCM Bojongsari, PRM Duren Seribu, serta warga Persyarikatan Muhammadiyah. Pengajian ini juga menjadi awal pembahasan berseri buku Kuliah Akidah Islam yang akan dikaji secara rutin setiap bulan.
Dalam pemaparannya, Buya Zamah Sari menjelaskan bahwa pemilihan buku karya Prof. Yunahar Ilyas didasarkan pada kapasitas almarhum sebagai salah satu ulama tarjih Muhammadiyah yang memiliki otoritas dalam bidang akidah dan fikih.
“Kajian ini bertujuan menegaskan kembali bahwa akidah adalah fondasi ajaran Islam. Akidah membimbing seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, sejak lahir hingga meninggal dunia,” ujar Buya Zamah Sari.
Ia mengatakan, pemahaman akidah yang kokoh menjadi dasar untuk memahami Islam secara utuh sesuai dengan manhaj Muhammadiyah.
Menurutnya, selama ini masih banyak masyarakat yang mencampuradukkan pembahasan akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak, padahal masing-masing memiliki ruang lingkup yang berbeda.
“Pemahaman akidah yang kuat menjadi kunci untuk memahami Islam secara komprehensif sesuai manhaj Muhammadiyah,” katanya.
Buya Zamah menjelaskan bahwa pembahasan muamalah memiliki karakter yang berbeda dengan akidah maupun ibadah. Dalam ranah muamalah, ruang dialog dan perbedaan pendapat lebih terbuka karena berkaitan dengan hubungan antarmanusia dan kehidupan sosial.
“Dalam muamalah, prinsip dasarnya adalah boleh, kecuali yang secara tegas diharamkan. Karena itu, ruang dialog dan perbedaan pendapat lebih terbuka dibandingkan persoalan akidah dan ibadah,” jelasnya.
Sementara itu, akidah memiliki fokus utama pada penguatan iman dan tauhid agar seorang Muslim terhindar dari praktik syirik, khurafat, maupun takhayul.
“Akidah berfokus pada iman dan tauhid agar kehidupan seorang Muslim bersih dari syirik, khurafat, dan takhayul,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pembahasan akidah tidak menyentuh aspek teknis pelaksanaan ibadah, melainkan berkaitan dengan keyakinan sebagai pondasi keislaman.
“Akidah tidak membahas tata cara salat, haji, ataupun taharah. Itu merupakan bagian dari pembahasan ibadah,” tegas Buya Zamah.
Dalam kesempatan itu, Buya Zamah juga mengulas metodologi Prof. Yunahar Ilyas dalam menyusun buku Kuliah Akidah Islam. Menurutnya, almarhum menggunakan pendekatan ilmiah yang tetap berpegang pada manhaj Muhammadiyah, tetapi terbuka terhadap khazanah pemikiran ulama Islam lainnya, termasuk Hasan Al-Banna.
Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkaya pemahaman akidah tanpa terjebak dalam perdebatan yang tidak substansial.
Selain membahas konsep iman, tauhid, ushuluddin, ilmu kalam, dan fikih akbar, kajian juga mengulas sumber-sumber akidah Islam, termasuk fungsi akal dalam memperkuat keyakinan melalui kerangka berpikir yang logis dan berdasar pada dalil.
“Tujuan kajian ini adalah membangun dan menguatkan akidah dengan cara yang mudah dipahami, baik oleh individu maupun masyarakat luas,” tutur Buya Zamah.
Ia berharap kajian tersebut mampu memperkuat pemahaman warga Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran modern dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Pendekatan memahami akidah harus terstruktur, berdalil, dan terbuka terhadap khazanah keilmuan Islam agar mampu menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.
Prof. Yunahar Ilyas sendiri dikenal sebagai salah satu ulama dan cendekiawan Muhammadiyah yang memiliki kontribusi besar dalam bidang tarjih dan pemikiran Islam. Selain pernah menjabat Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama beberapa periode, ia juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015–2020.
Melalui karya-karyanya, seperti Kuliah Akidah Islam dan Tipologi Manusia dalam Al-Qur’an, pemikiran Prof. Yunahar hingga kini tetap menjadi rujukan penting dalam penguatan akidah dan pengembangan pemikiran Islam berkemajuan di lingkungan Muhammadiyah.
Sebagai tindak lanjut, peserta pengajian sepakat menjadikan kajian buku Kuliah Akidah Islam sebagai agenda rutin bulanan mengingat luas dan mendalamnya materi yang dibahas. Diharapkan, forum tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran yang memperkokoh akidah warga Muhammadiyah sekaligus menjawab berbagai tantangan keislaman di era modern.