Haedar Nashir: Muhammadiyah Hadir untuk Membangkitkan Potensi Umat dan Melawan Stagnasi

Haedar Nashir: Muhammadiyah Hadir untuk Membangkitkan Potensi Umat dan Melawan Stagnasi
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat menghadiri peluncuran Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa setiap kelompok masyarakat sejatinya memiliki potensi besar untuk maju. Namun, potensi tersebut kerap tidak berkembang karena terhambat budaya stagnasi, tradisionalisme, maupun kepentingan kelompok yang mempertahankan status quo.

Hal itu disampaikan Haedar saat menghadiri peluncuran Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Haedar, potensi masyarakat sering kali masih bersifat laten atau tersembunyi sehingga membutuhkan aktor perubahan yang mampu mengubahnya menjadi kekuatan nyata demi kemajuan umat.

Ia menjelaskan, selain dipengaruhi tradisi yang menghambat perubahan, perkembangan masyarakat juga sering tertahan karena sebagian elite lebih memilih mempertahankan kondisi yang menguntungkan dirinya daripada mendorong kemajuan bersama.

“Ketika status quo itu menguntungkan dirinya, maka biarkanlah masyarakat, umat itu ternina bobokkan oleh kegiatan-kegiatan ritual yang indah, yang ramai gitukan, yang bareng-bareng gitu. Dan di situlah biasanya elit muncul sebagai tokoh yang seakan-akan menjadi representasi dari masyarakatnya,” ungkap Haedar.

Haedar mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Pendiri Muhammadiyah itu memilih menghadirkan perubahan melalui aksi nyata, terutama dengan membangun sistem pendidikan Islam modern yang mampu membangkitkan kualitas umat.

Selain mendirikan sekolah, Kiai Ahmad Dahlan juga mengembangkan layanan kesehatan melalui rumah sakit dan mendirikan organisasi perempuan ’Aisyiyah, yang pada masanya menjadi langkah pembaruan yang membedakan Muhammadiyah dari gerakan Islam lainnya.

Menurut Haedar, Kiai Ahmad Dahlan tidak pernah menjadikan posisi sebagai tokoh agama untuk mempertahankan kekuasaan atau status quo. Sebaliknya, seluruh gerakan Muhammadiyah diarahkan untuk menciptakan perubahan yang membawa kemajuan bagi umat.

“Kiai Dahlan tidak ingin klangenan, Kiai Dahlan tidak ingin status quo. Tetapi dia ingin perubahan, karena perubahan itulah yang menjadi jiwa Islam,” ungkap Haedar Nashir.

Ia menegaskan bahwa musuh utama gerakan pembaruan adalah kejumudan atau stagnasi. Karena itu, warga Muhammadiyah harus terus mengembangkan potensi yang dimiliki agar menjadi kekuatan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Peluncuran Muhammadiyah Sapen Universal School, lanjut Haedar, menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk melanjutkan semangat pembaruan yang diwariskan Kiai Ahmad Dahlan. Melalui pendidikan yang unggul dan berorientasi global, Muhammadiyah berharap dapat melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus membawa kemajuan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.