Muhammadiyah Tegaskan PHIWM Bukan Ajaran Baru, tetapi Panduan Praktis Berislam
TVMU.TV - Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengajak warga Muhammadiyah menjadikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) sebagai panduan dalam mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Ajakan tersebut disampaikan Talqis saat mengisi pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Kamis (2/7). Kajian itu menjadi pertemuan perdana yang membahas PHIWM secara bertahap sebagai pedoman praktis bagi warga Muhammadiyah.
Menurut Talqis, PHIWM bukanlah sumber ajaran baru yang menggantikan Al-Qur’an dan Sunah. Pedoman tersebut disusun secara tematik agar memudahkan umat menerapkan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan.
“PHIWM memudahkan kita mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an dan hadis karena disusun secara tematik. Jadi, bukan menggantikan Al-Qur’an dan Sunah, tetapi menjadi panduan praktis dalam berperilaku sebagai warga Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PHIWM disusun berdasarkan dokumen resmi Persyarikatan, seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Kepribadian Muhammadiyah, dan Khittah Perjuangan Muhammadiyah.
Talqis menambahkan, apabila terdapat pandangan yang dinilai kurang tepat dalam PHIWM, warga Muhammadiyah sebaiknya mengedepankan tabayun dan dialog ilmiah, bukan langsung menyampaikan penilaian sepihak melalui media sosial. Sebab, dokumen tersebut merupakan hasil ijtihad manusia yang tetap menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai rujukan utama.
Menurutnya, kebutuhan akan PHIWM bermula dari amanat Tanwir Muhammadiyah di Jakarta pada 1992. Meski telah disusun puluhan tahun lalu, pedoman tersebut tetap relevan menghadapi perkembangan zaman karena seluruh prinsipnya bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah.
“Generasi boleh berganti, mulai dari milenial, Gen Z hingga generasi Alpha, tetapi selama acuannya Al-Qur’an dan Sunah, pedoman ini tetap relevan digunakan,” katanya.
Talqis menjelaskan, PHIWM mengatur berbagai dimensi kehidupan warga Muhammadiyah, mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), berprofesi, berbangsa dan bernegara, menjaga lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga menyikapi seni dan budaya.
Ia menegaskan, Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memberikan pedoman dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan profesional.
Dalam kajian tersebut, Talqis juga memaparkan tahapan pembentukan kepribadian seorang muslim sebagaimana dijelaskan dalam PHIWM, yaitu menjadi muslim, mukmin, muhsin, hingga muttaqin.
Ia menjelaskan bahwa keislaman tidak berhenti pada pengucapan dua kalimat syahadat, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan tauhid serta keteladanan Rasulullah SAW.
Talqis juga menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi keimanan agar seorang muslim memiliki keyakinan yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh berbagai keraguan.
“Kalau masih melakukan kebaikan karena ingin dilihat orang atau meninggalkan maksiat hanya karena takut diketahui orang lain, berarti belum sampai pada derajat ihsan,” katanya.
Selain itu, ia mengulas empat fondasi kehidupan pribadi dalam PHIWM, yakni akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah.
Dalam aspek akidah, Talqis mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian tauhid dengan menjauhi praktik tahayul, khurafat, serta keyakinan mistis yang tidak memiliki dasar syariat.
“Orang Muhammadiyah percaya adanya jin karena memang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tetapi kita tidak boleh mengaitkan nasib baik atau buruk kepada pohon, angka, atau hitungan-hitungan tertentu,” ujarnya.
Pada aspek akhlak, ia mengajak warga Muhammadiyah meneladani sifat Rasulullah SAW, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, serta menjadikan kejujuran dan keikhlasan sebagai karakter utama dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.
Sementara itu, dalam bidang ibadah, Talqis mengingatkan agar umat Islam mendahulukan pelaksanaan ibadah wajib sebelum memperbanyak ibadah sunah.
“Jangan sampai rajin salat malam tetapi justru meninggalkan salat Subuh. Yang wajib harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Pada aspek muamalah duniawiyah, ia menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Karena itu, aktivitas ekonomi, pekerjaan, maupun pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara amanah serta tidak merusak lingkungan.
Talqis juga mendorong warga Muhammadiyah mengembangkan cara berpikir bayani, burhani, dan irfani dalam mengambil keputusan agar mampu memadukan dalil syariat, pertimbangan rasional, dan kebijaksanaan hati.
Menutup kajian, Talqis berharap pembahasan PHIWM dapat memperkuat pemahaman warga Muhammadiyah dalam menjalankan ajaran Islam secara konsisten sekaligus menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin mengenal karakter Islam Berkemajuan.
“Empat aspek inilah yang menjadi fondasi kehidupan pribadi warga Muhammadiyah, yaitu akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. Mudah-mudahan menjadi pencerahan bagi kita semua dalam mengimplementasikan Islam di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.