Muhammadiyah dan Uni Emirat Arab Sepakat Perkuat Moderasi Islam di Tengah Gejolak Global

Muhammadiyah dan Uni Emirat Arab Sepakat Perkuat Moderasi Islam di Tengah Gejolak Global
PP Muhammadiyah menerima kunjungan delegasi Uni Emirat Arab (UEA) yang dipimpin Dr. Ali Rashid Al Nuaimi, Anggota Dewan Nasional Federal UEA sekaligus Ketua Komite Urusan Pertahanan, Dalam Negeri, dan Luar Negeri, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026). Foto: Sekretariat PP Muhammadiyah Jakarta/ Nadri.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan delegasi Uni Emirat Arab (UEA) yang dipimpin Dr. Ali Rashid Al Nuaimi, Anggota Dewan Nasional Federal UEA sekaligus Ketua Komite Urusan Pertahanan, Dalam Negeri, dan Luar Negeri, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan moderasi Islam, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta kerja sama dalam menjaga perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstrem.

Delegasi UEA diterima oleh Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni bersama perwakilan Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Bunyan Saptomo.

Dalam pertemuan itu, Syafiq menegaskan komitmen Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengusung nilai Islam Wasathiyah (moderat), persatuan umat, serta penghormatan terhadap kebebasan beragama dan bermazhab.

“Muhammadiyah secara tegas mengidentifikasi diri sebagai organisasi Sunni, namun organisasi ini sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama dan bermazhab tanpa paksaan. Karakter toleran ini juga tercermin dalam praktik pendidikan kami, di mana banyak sekolah Muhammadiyah menerima siswa non-Muslim, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” kata Syafiq.

Menurut Syafiq, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai sekaligus mencegah berkembangnya paham sektarian yang berpotensi memecah belah umat.

Ia juga menyampaikan harapan agar kawasan Timur Tengah, khususnya wilayah Teluk, semakin stabil dan terbebas dari konflik berkepanjangan. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki visi yang sejalan dengan UEA dalam membangun perdamaian, memperkuat koeksistensi antarumat beragama, dan menciptakan kawasan yang bebas dari peperangan.

Sementara itu, Dr. Ali Rashid Al Nuaimi mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam mempromosikan Islam yang moderat. Ia menilai pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan keagamaan yang toleran dapat menjadi rujukan bagi masyarakat internasional.

“Model Islam Indonesia yang didasarkan pada penghormatan terhadap sesama sangat unik. Mengingat Indonesia adalah salah satu negara Muslim terbesar di dunia, sangat penting untuk tidak membiarkan versi Islam dari luar masuk dan membajak generasi muda Indonesia,” tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, delegasi UEA juga memaparkan perkembangan situasi di Timur Tengah yang masih diwarnai berbagai konflik dan ketegangan geopolitik. Kondisi tersebut, menurut mereka, menjadi tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi antarnegara dan organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat perdamaian dan ketahanan sosial.

Perwakilan LHKI PP Muhammadiyah, Bunyan Saptomo, menambahkan bahwa organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam memperkuat moderasi beragama sekaligus meningkatkan literasi masyarakat terhadap berbagai pengaruh ideologi transnasional.

Menurutnya, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu menyaring berbagai pengaruh yang masuk melalui beragam jalur, termasuk pendidikan internasional maupun ruang digital.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan Muhammadiyah dan Uni Emirat Arab dalam memperkuat kerja sama di bidang perdamaian, dialog antaragama, pendidikan, serta pengembangan Islam moderat sebagai fondasi membangun kehidupan global yang harmonis.

Catatan redaksi: Naskah ini disesuaikan dengan kaidah jurnalistik dengan menghindari penyajian klaim yang belum terverifikasi sebagai fakta. Pernyataan terkait situasi geopolitik maupun dugaan pengaruh ideologi tertentu tetap disajikan sebagai pernyataan narasumber, bukan sebagai fakta yang telah terbukti.