Teladani Hijrah Rasulullah, Muhammadiyah Tekankan Kepemimpinan Berbasis Amanah dan Kepedulian
TVMU.TV - Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, mengajak umat Islam menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. sebagai teladan dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan amanah, kasih sayang, dan pengorbanan. Menurutnya, semangat hijrah mengajarkan bahwa pemimpin sejati selalu mendahulukan keselamatan orang yang dipimpinnya.
Pesan tersebut disampaikan Fajar saat menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (3/7/2026).
Dalam khutbahnya, Fajar menjelaskan bahwa setiap tahapan hijrah Rasulullah saw. mengandung pelajaran kepemimpinan yang relevan sepanjang masa. Salah satunya adalah keputusan Rasulullah untuk berhijrah paling akhir setelah memastikan para sahabat lebih dahulu tiba di Madinah dengan selamat.
“Rasulullah tidak ingin meninggalkan para sahabat sebelum memastikan mereka telah sampai di Madinah dengan aman. Beliau baru berhijrah ketika Allah memberikan izin kepadanya,” ujarnya.
Mengutip penjelasan Syekh Ali Ath-Thanthawi dalam kitab Rijalun min at-Tarikh, Fajar mengatakan keputusan tersebut mencerminkan karakter pemimpin yang mengutamakan keselamatan umat di atas kepentingan pribadi.
Ia mengibaratkan Rasulullah sebagai nahkoda kapal yang tetap bertahan hingga seluruh penumpang selamat ketika kapal menghadapi badai. Begitu pula seperti seorang penggembala yang memastikan seluruh ternaknya melewati bahaya sebelum memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
“Di sinilah kita melihat kemuliaan akhlak kepemimpinan Rasulullah. Beliau tidak bertanya bagaimana dirinya selamat, tetapi bagaimana umatnya bisa selamat,” katanya.
Menurut Fajar, Rasulullah tidak pernah menjadikan umat sebagai alat untuk meraih kehormatan. Sebaliknya, beliau menempatkan dirinya sebagai pelindung yang siap berkorban demi keselamatan umat.
Nilai tersebut, lanjutnya, ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 128, yang menggambarkan Rasulullah sebagai sosok yang sangat peduli terhadap penderitaan umatnya, menginginkan kebaikan bagi mereka, serta penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman.
Karena itu, Fajar menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam harus dibangun di atas empati dan tanggung jawab, bukan sekadar kekuasaan.
“Ketika rakyat mengalami kesulitan, pemimpin tidak boleh sibuk menjaga citra. Ketika umat terluka, pemimpin tidak cukup hanya menyusun kata-kata. Pemimpin sejati hadir sebagai pelindung, penenang, sekaligus pemberi arah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah saw. tidak cukup diwujudkan melalui banyak berselawat, tetapi harus dibuktikan dengan meneladani kepemimpinan beliau yang berpihak kepada kemaslahatan umat.
Menurut Fajar, setiap orang pada hakikatnya adalah pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi saw. tentang amanah kepemimpinan. Tanggung jawab itu tidak hanya melekat pada pejabat negara, tetapi juga pada ayah dalam keluarga, ibu di rumah tangga, guru di sekolah, dosen di perguruan tinggi, hingga pimpinan organisasi dan lembaga.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada besarnya jabatan, banyaknya pengikut, atau tingginya penghormatan yang diterima.
“Pertanyaan terbesar bagi seorang pemimpin bukan berapa banyak orang menghormatinya atau berapa banyak pengikutnya, melainkan berapa banyak orang yang merasa aman karena kehadirannya,” ujarnya.
Fajar menambahkan, pemimpin sejati selalu bertanya apa yang dapat dikorbankan demi kepentingan umat, bukan apa yang dapat diperoleh dari mereka.
Ia mengibaratkan pemimpin sebagai perisai yang diciptakan untuk menerima benturan demi melindungi orang lain. Seorang pemimpin yang meneladani Rasulullah, katanya, harus berani berada di garis depan menghadapi risiko, bukan menikmati kenyamanan ketika orang-orang yang dipimpinnya menghadapi kesulitan.
Menutup khutbahnya, Fajar mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, kekuasaan merupakan ujian, dan pengaruh adalah tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
“Semoga Allah menjadikan kita semua pemimpin yang amanah, baik dalam memimpin diri sendiri, keluarga, lembaga, masyarakat, maupun umat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang penuh kasih sayang, kepemimpinan yang adil, serta akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah Saw,” pungkasnya.