Haedar Nashir Pimpin Salat Jenazah Siti Chamamah Soeratno, Muhammadiyah Beri Penghormatan Terakhir
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir memimpin sekaligus menjadi imam salat jenazah Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno di Musala RS PKU Muhammadiyah Gamping, Selasa (7/7). Prosesi tersebut dilaksanakan setelah jenazah dimandikan di rumah sakit tersebut.
Prof. Siti Chamamah Soeratno merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat ’Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ’Aisyiyah atas pengabdiannya yang panjang di bidang pendidikan, dakwah, serta pengembangan pemikiran Islam Berkemajuan.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, almarhumah dijadwalkan disemayamkan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (8/7/2026) pukul 13.00 WIB. Selanjutnya, jenazah akan diberangkatkan ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta untuk prosesi penghormatan dan takziah mulai pukul 14.30 WIB.
Usai prosesi tersebut, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karangkajen, Yogyakarta, setelah salat Asar.
Pada kesempatan itu, Haedar Nashir kembali menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tokoh perempuan Muhammadiyah yang juga dikenal sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mengenang almarhumah sebagai sosok cendekiawan yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan Muhammadiyah, ’Aisyiyah, dan dunia pendidikan.
Haedar juga memanjatkan doa agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhumah serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Semoga almarhumah Prof. Chamamah Soeratno husnul khatimah, dilapangkan kuburnya, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya, dan dianugerahi tempat di surga dalam rida Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran, serta jejak kebaikan dan perjuangan almarhumah dapat dilanjutkan oleh keluarga dan generasi muda yang mencintai ilmu serta pengkhidmatan dakwah di jalan Allah,” tutup Haedar.
Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno menjadi kehilangan besar bagi Persyarikatan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai akademisi, pemikir, dan pemimpin yang berperan penting dalam memperkuat gerakan perempuan berkemajuan serta memajukan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia maupun di tingkat internasional.