Didik Suhardi Tekankan Pentingnya Standarisasi ISMUBA untuk Menjaga Mutu Sekolah Muhammadiyah
TVMU.TV - Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Didik Suhardi, menegaskan pentingnya pengukuran dan standarisasi mata pelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) sebagai ciri khas sekaligus penanda mutu pendidikan Muhammadiyah.
Penegasan tersebut disampaikan Didik Suhardi dalam kegiatan InspirasiMu Chapter 31 bertajuk “Sosialisasi TKA” yang digelar secara daring oleh Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Selasa (7/1). Kegiatan ini diikuti ratusan perwakilan sekolah dan madrasah Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Didik menjelaskan bahwa pemerintah sejak tahun lalu telah menerapkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, pembinaan, sekaligus salah satu syarat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutnya, keberadaan TKA penting karena daerah membutuhkan tolok ukur mutu yang dapat dijadikan rujukan oleh satuan pendidikan.
“TKA itu paling tidak berfungsi untuk tiga hal, yaitu memetakan mutu, melakukan pembinaan, dan menjadi salah satu alat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Namun, Didik menekankan bahwa pendidikan Muhammadiyah memiliki kekhasan yang tidak dimiliki sistem pendidikan lain, yakni ISMUBA. Kekhasan tersebut, kata dia, harus dijaga melalui pengukuran yang terstandar agar kualitas pembelajarannya tetap terjamin.
“Pendidikan Muhammadiyah punya spesifikasi yang tidak dimiliki sistem pendidikan lain, yaitu ISMUBA. Karena itu, kita perlu melakukan pengukuran sejauh mana ISMUBA diajarkan di sekolah,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengukuran ISMUBA tidak semata-mata ditujukan untuk kepentingan ujian, tetapi menjadi bagian dari evaluasi sistem pendidikan secara menyeluruh. Melalui evaluasi tersebut, sekolah dapat memetakan kekuatan dan kelemahan pembelajaran sekaligus merumuskan langkah perbaikan yang tepat.
“Evaluasi itu penting karena merupakan bagian dari sistem pendidikan. Ada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ini siklus yang harus terus dilakukan secara berulang,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Didik juga menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak selalu harus dilakukan secara tatap muka. Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, menurutnya, tengah menyiapkan platform pembelajaran daring yang memungkinkan guru mengembangkan kapasitas secara mandiri dan berkelanjutan.
“Pelatihan itu tidak harus selalu dipanggil. Bapak dan Ibu bisa melakukan pelatihan sendiri melalui platform yang sedang kami siapkan,” ungkapnya.
Didik turut menyebut bahwa Iwan Junaidi bersama tim telah menyusun kisi-kisi serta panduan materi ISMUBA yang akan menjadi acuan bagi sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Panduan tersebut diharapkan menjadi pedoman sekaligus peta jalan dalam pelaksanaan pengujian ISMUBA.
“Semangatnya sederhana, kita mengujikan apa yang diajarkan. Walaupun belajar tidak hanya untuk ujian, tapi kita tetap perlu alat evaluasi,” tandasnya.
Menutup paparannya, Didik menegaskan bahwa penguatan ISMUBA merupakan modal strategis pendidikan Muhammadiyah dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan religius.
“ISMUBA adalah kekuatan pendidikan Muhammadiyah. Di samping ilmu yang kuat, kita juga membangun karakter dan nilai religiusitas, sehingga lulusan Muhammadiyah mampu mengimbaskan nilai-nilai persyarikatan di mana pun mereka berada,” pungkasnya.