Din Syamsuddin Dorong Muhammadiyah Perkuat Perlindungan dan Pemberdayaan Pekerja Migran
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin, mendorong Muhammadiyah untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam perlindungan dan peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia (PMI). Menurutnya, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, pendampingan, hingga diplomasi internasional.
Pandangan tersebut disampaikan Din saat menjadi narasumber dalam kegiatan Muhammadiyah Diplomacy Training (MDT) yang diselenggarakan oleh Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Sabtu (6/6/2026).
Dalam pemaparannya, Din menjelaskan bahwa persoalan pekerja migran Indonesia tidak hanya muncul ketika mereka bekerja di luar negeri, tetapi telah dimulai sejak sebelum keberangkatan hingga setelah kembali ke Tanah Air. Ketiga fase tersebut, menurutnya, memiliki berbagai kerawanan yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Dalam ketiga fase itu terdapat titik-titik rawan yang sering menimbulkan masalah bagi pekerja migran. Karena penempatan tenaga kerja melibatkan banyak pihak, peluang terjadinya praktik yang tidak adil masih cukup besar,” jelas Din.
Ia menilai salah satu persoalan mendasar pada fase pra-keberangkatan adalah masih rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan sebagian calon pekerja migran. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan menghadapi berbagai tantangan di negara tujuan, termasuk kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja maupun risiko eksploitasi.
Karena itu, Din mendorong Muhammadiyah memanfaatkan jaringan organisasi, amal usaha, majelis, dan organisasi otonom yang dimilikinya untuk memperkuat program pembekalan dan pelatihan bagi calon pekerja migran.
“Ini merupakan ruang yang masih sangat terbuka untuk digarap Muhammadiyah. Pembekalan dan pelatihan yang memadai dapat membantu pekerja migran menghadapi tantangan di negara tujuan sekaligus mengurangi berbagai risiko, termasuk pelecehan seksual yang kerap dialami pekerja migran perempuan,” ujarnya.
Menurut Din, peningkatan kompetensi dan kesiapan calon pekerja migran menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi tawar tenaga kerja Indonesia di pasar global. Selain itu, pendampingan yang berkelanjutan juga diperlukan untuk memastikan hak-hak pekerja migran tetap terlindungi selama bekerja di luar negeri.
Sementara itu, Rektor UM Bandung, Herry Suhardiyanto, mengapresiasi penyelenggaraan MDT sebagai forum penguatan kapasitas kader Muhammadiyah di bidang diplomasi dan hubungan internasional.
Menurutnya, kemampuan diplomasi menjadi keterampilan penting dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, termasuk memberikan perlindungan kepada warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Kegiatan MDT berlangsung selama dua hari dan dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Syafiq Mughni, Zulfikar Ahmad Tawalla, Ketua LHKI PP Muhammadiyah Imam Addaruqutni, serta Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais.
Melalui agenda tersebut, Muhammadiyah berupaya memperkuat diplomasi kemanusiaan dan kebangsaan di tingkat global. Penguatan kapasitas kader serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian nasional.
Dengan jaringan yang tersebar luas, baik di dalam maupun luar negeri, Muhammadiyah dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung lahirnya pekerja migran yang lebih terampil, terlindungi, dan berdaya saing di tingkat internasional.