Dosen UMJ Masuk Pengurus Inti ANI, Perkuat Riset dan Ekonomi Wakaf Nasional

Dosen UMJ Masuk Pengurus Inti ANI, Perkuat Riset dan Ekonomi Wakaf Nasional
Dosen FEB UMJ, Dr. Jaharuddin, M.E., dipercaya menjadi pengurus inti Divisi Riset dan Ekonomi Wakaf dalam Rakernas I Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI), Minggu (15/2/2025) secara daring. Foto: UMJ.

TVMU.TV - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dr. Jaharuddin, M.E., dipercaya menjadi pengurus inti Divisi Riset dan Ekonomi Wakaf dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu (15/2/2025).

Penunjukan tersebut menempatkan Jaharuddin pada posisi strategis dalam perumusan arah kebijakan, penguatan riset wakaf, serta pengembangan model ekonomi wakaf produktif di tingkat nasional.

Dalam forum Rakernas, ANI menegaskan pentingnya penguatan riset sebagai basis kebijakan wakaf nasional. Divisi Riset dan Ekonomi Wakaf diharapkan mampu menghadirkan kajian berbasis data yang aplikatif, sehingga pengelolaan wakaf tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi benar-benar implementatif dan berdampak.

Jaharuddin menyatakan keterlibatannya sebagai nazhir profesional bukan sekadar posisi organisasi, melainkan bagian dari komitmen moral dan keilmuan.

“Kenapa kami aktif sebagai nazhir profesional, bukan karena lembaga, bukan karena ANI, apalagi cuma sebagai pekerjaan. Kami aktif sebagai nazhir, karena pahala jariyah akan mengalir ke kami, walaupun saat itu kami sudah tidak bisa beramal lagi,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh menjadi “menara gading” yang terpisah dari realitas masyarakat. Ilmu ekonomi wakaf harus diuji dan disempurnakan melalui praktik langsung di lapangan, termasuk dalam menghadapi tantangan tata kelola, kapasitas sumber daya manusia, regulasi, serta pengembangan model ekonomi produktif yang berkelanjutan.

Keterlibatan akademisi dalam organisasi profesi seperti ANI dinilai menjadi jembatan penting antara teori dan praktik. Pengalaman empiris memperkaya perspektif akademik, sementara pendekatan ilmiah memperkuat kualitas kebijakan dan manajemen wakaf.

Rakernas ANI juga menyoroti pembentukan Indonesian Nazhir Academy sebagai Sekolah Wakaf yang bertujuan meningkatkan kompetensi nazhir secara sistematis. Inisiatif tersebut membuka ruang kolaborasi antara kampus dan organisasi profesi dalam pengembangan kurikulum, penelitian terapan, serta standardisasi kompetensi pengelola wakaf.

Partisipasi aktif dosen UMJ dalam struktur nasional wakaf menunjukkan peran perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi umat, khususnya melalui instrumen wakaf produktif yang berkelanjutan. Dengan sinergi antara dunia akademik dan praktik kelembagaan, penguatan wakaf nasional diharapkan semakin terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat.