Haedar Nashir: Kemajuan Peradaban Harus Berpijak pada Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan peradaban alternatif yang mampu menjawab berbagai krisis kemanusiaan global. Menurutnya, Islam memiliki fondasi nilai yang dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan peradaban modern yang hingga kini masih diwarnai perang, konflik, dan genosida.
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam pengajian yang berlangsung di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Jumat (5/6/2026).
Haedar menilai tata kehidupan global yang dibangun di atas paradigma humanisme sekuler terbukti belum mampu menghadirkan perdamaian dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Meski dunia telah melewati tragedi besar seperti Perang Dunia II, berbagai konflik bersenjata dan pelanggaran kemanusiaan masih terus terjadi di berbagai kawasan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya krisis dalam peradaban modern yang selama ini dianggap sebagai simbol kemajuan.
“Inilah penanda dari kegelapan peradaban modern Barat, atau lorong gelap dari peradaban modern Barat. Mudah-mudahan mereka menemukan jalan baru untuk solusi bahwa satu jiwa, satu bangsa pun tidak berhak untuk direnggut oleh siapapun,” kata Haedar.
Guru Besar Sosiologi itu menyoroti masih terjadinya agresi militer, konflik antarnegara, hingga praktik genosida yang menimbulkan penderitaan kemanusiaan dalam skala besar. Bahkan, menurutnya, terdapat pelanggaran hukum internasional yang belum mampu dihentikan secara efektif oleh sistem global saat ini.
Dalam konteks tersebut, Haedar menilai Islam memiliki peluang besar untuk menghadirkan paradigma peradaban yang lebih berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.
Ia menjelaskan bahwa Islam sejak awal membawa misi kemanusiaan universal yang menjunjung tinggi martabat manusia tanpa membedakan agama, suku, bangsa, maupun latar belakang sosial.
“Nabi diutus dan kita menjadi pengikutnya untuk meneruskan risalah nabi tidak lain untuk menjadi penebar rahmat bagi semesta alam. Rahmat adalah kebajikan yang melampaui tidak mengenal agama, suku, dan seterusnya,” ujarnya.
Haedar menambahkan, sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dunia. Kemajuan tersebut dibangun di atas fondasi nilai-nilai tauhid yang memadukan perkembangan ilmu dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama peradaban Islam terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan nilai-nilai ketuhanan.
“Bukan hanya kita meletakkan Allah sebagai kekuatan tunggal dan Maha Segalanya, tetapi juga memancarkan pencerahan pada kehidupan kemanusiaan,” katanya.
Haedar menegaskan bahwa tauhid tidak boleh dipahami secara pasif, melainkan harus menjadi energi yang melahirkan tindakan nyata untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kemajuan bagi kehidupan manusia.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan yang tercerabut dari nilai-nilai spiritual berpotensi melahirkan berbagai bentuk krisis kemanusiaan. Karena itu, pembangunan peradaban masa depan harus berlandaskan nilai ketuhanan sekaligus berorientasi pada kemaslahatan seluruh umat manusia.
Melalui pandangan tersebut, Muhammadiyah terus mendorong penguatan konsep Islam Berkemajuan sebagai bagian dari kontribusi umat Islam dalam menghadirkan peradaban dunia yang lebih damai, berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal.