Haedar Nashir: Kepemimpinan Muhammadiyah Mengalir, Bukan Diperebutkan

Haedar Nashir: Kepemimpinan Muhammadiyah Mengalir, Bukan Diperebutkan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Wisuda dan Pelepasan Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di UMY, Sabtu (29/8/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan kader Muhammadiyah untuk menikmati setiap tahapan proses berorganisasi. Menurutnya, kepemimpinan di Muhammadiyah tumbuh melalui proses yang berjenjang dan semestinya tidak lahir dari ambisi merebut jabatan.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Wisuda dan Pelepasan Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (29/8/2026).

Haedar mengajak para lulusan PUTM memulai kiprah di Muhammadiyah dari bawah dengan menjadi anggota, terus belajar, dan menjalani setiap proses pengabdian. Ia menilai pengalaman di berbagai tingkatan organisasi menjadi bagian penting dalam membentuk kematangan seorang kader.

Menurut Haedar, kepemimpinan di Muhammadiyah seharusnya tumbuh secara alami tanpa paksaan. Pola tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat proses regenerasi dan pemilihan pimpinan Muhammadiyah dapat berlangsung secara relatif tertib.

“Karena setiap orang tidak punya hasrat ke situ. Tapi sekali hasrat itu tumbuh dan ditumbuhkan, dan merasa bisa, di situlah mulai awal perebutan jabatan. Soal ilmu, soal kepercayaan diri, soal kemampuan itu hasil pergumulan,” ungkapnya.

Jangan Takut Mengabdi di Ranting dan Cabang

Haedar juga mengingatkan kader agar tidak memandang penugasan di tingkat Cabang atau Ranting sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan berkiprah di tingkat pusat.

Menurutnya, kader Muhammadiyah harus siap ditempatkan di mana pun, termasuk di luar negeri. Sebab, kekuatan Persyarikatan tidak hanya dibangun oleh struktur di tingkat pusat, tetapi juga oleh para kader dan anggota yang bekerja di tingkat akar rumput.

“Muhammadiyah ini besar karena juga dibesarkan oleh mereka yang ada di ranting, di jemaah, di cabang, di pelosok-pelosok terjauh yang kerjanya mungkin terbatas, tapi doanya dengan ikhlas menembus langit,” imbuhnya.

Bagi Haedar, pengabdian di berbagai jenjang merupakan bagian dari proses pembentukan kader. Karena itu, setiap kader perlu melihat penugasan sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan manfaat bagi Persyarikatan dan masyarakat.

Pimpinan Harus Tunduk pada Sistem Organisasi

Selain berbicara mengenai proses kaderisasi, Haedar menekankan pentingnya kepatuhan pimpinan terhadap sistem organisasi Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa seorang pimpinan tidak boleh menjadikan kehendak pribadi sebagai dasar dalam menjalankan organisasi. Setiap keputusan harus tetap berada dalam bingkai ideologi, sistem, dan mekanisme organisasi yang telah dibangun Muhammadiyah.

“Kita harus punya prinsip ideologi yang membingkai kita. Apalagi jadi pimpinan,” tegas Haedar.

Menurutnya, sistem organisasi merupakan salah satu kekuatan Muhammadiyah. Sistem tersebut tidak hanya berlaku di tingkat pusat, tetapi juga berjalan hingga struktur Ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah.

Kendati memiliki sistem yang kuat, Haedar menegaskan Muhammadiyah bukan organisasi yang menutup diri terhadap gagasan baru. Berbagai pandangan mengenai keagamaan, sosial, ekonomi, maupun persoalan lainnya tetap dapat disampaikan melalui ruang musyawarah.

Dengan demikian, proses berorganisasi di Muhammadiyah berjalan melalui keseimbangan antara sistem, kaderisasi, musyawarah, dan pengabdian. Bagi kader, perjalanan tersebut bukan sekadar jalan menuju posisi kepemimpinan, melainkan proses panjang untuk belajar dan memberikan manfaat.