Haedar Nashir Minta Pimpinan Muhammadiyah Fokus pada Dampak Nyata

Haedar Nashir Minta Pimpinan Muhammadiyah Fokus pada Dampak Nyata
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat menyampaikan tausiyah dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar PWM Jawa Timur, Sabtu (29/11) secara daring. Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Di tengah berbagai pencapaian dan citra positif yang diraihnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan seluruh jajaran Persyarikatan untuk terus melakukan muhasabah (introspeksi).

Pesan ini disampaikan secara daring dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (29/11).

Haedar menegaskan bahwa segala capaian saat ini adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dengan tetap memperbaiki diri.

“Maka sebagai syukur dan wujud mensyiarkan milad ini mari kita tentu harus tetap muhasabah. Menilik kekurangan dan kelemahan kita. Atau membaca dan memperbandingkan realitas di hadapan kita sebagai tantangan,” kata Haedar.

Ia memperingatkan agar kesuksesan tidak membuat Muhammadiyah terjebak dalam kepuasan diri yang justru memudarkan semangat kepeloporan.

Selain itu, Haedar mencontohkan kepeloporan 'Aisyiyah dalam pendidikan anak usia dini yang tidak boleh berhenti berinovasi. Tak hanya di sektor pendidikan, seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) didorong untuk terus melakukan modernisasi, terutama AUM yang kualitasnya masih berada di level menengah ke bawah.

Lebih tajam, Haedar memberikan kritik reflektif terhadap pola kepemimpinan di tubuh organisasi. Ia mengingatkan agar pimpinan tidak terjebak pada "kepemimpinan semu" yang hanya mengekam eksposur di media sosial tanpa menciptakan perubahan nyata.

“Mobilitas tinggi, ke sana dan kemari, pergi ke bawah. Bahkan hadir ke suatu tempat, difoto kemudian menjadi dan disebarkan kemudian orang memberi apresiasi pada kita. Tapi sesungguhnya kita tidak berubat apa-apa ketika turun ke bawah itu,” ungkap Haedar tegas.

Ia menekankan bahwa setiap kunjungan dan mobilitas pimpinan harus meninggalkan dampak dan jejak perubahan yang konkret bagi masyarakat.

“Itu yang saya sebut sebagai keberhasilan semu para pimpinan kelihatan bergerak ke sana, kemari tapi tidak merubah keadaan,” pungkasnya, menutup amanahnya dengan seruan untuk mengutamakan substansi di atas pencitraan.