Haedar Nashir Nilai Dakwah Muhammadiyah Perlu Diperdalam dan Diperbanyak Cara untuk Menjangkau Akar Rumput
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa tugas generasi Muhammadiyah saat ini adalah memperdalam dan memperbanyak cara dalam menyebarluaskan dakwah berkemajuan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Refleksi ini disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis (29/1).
“Fondasi Muhammadiyah sejatinya sudah diletakkan dengan kokoh oleh para pendiri. Kita ini sesungguhnya hanya perlu melanjutkan, memperdalam, dan memperbanyak cara untuk mengembangkan apa yang telah dirintis para generasi awal Muhammadiyah,” jelas Haedar.
Ia menguraikan warisan dakwah inklusif K.H. Ahmad Dahlan yang berlandaskan semangat Al-Ma’un (teologi welas asih).
“Al Maun lewat gerakan rumah sakit (hospital), gerakan rumah miskin (armen huis), rumah yatim (whes huis). Gerakan sosial termasuk penanggulangan bencana tahun 1922, gerakan perempuan, melahirkan Aisyiyah yang merupakan satu-satunya pergerakan islam modern yang dilakukan perempuan di ruang publik. Jadi hal semacam itu tidak dilakukan oleh pergerakan islam manapun sebelumnya,” jelas Haedar, mencontohkan gerakan sosial nyata yang sudah dirintis sejak awal.
Haedar juga menceritakan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan aktif dalam pergerakan nasional, seperti menyelenggarakan kongres Budi Utomo di Kauman pada 1917. Dari sinilah lahir kolaborasi dengan tokoh seperti Dr. Soetomo, yang kemudian menjadi penasihat kesehatan Muhammadiyah dan membantu pendirian poliklinik—cikal bakal RS PKU Muhammadiyah Surabaya.
“Al Maun itu menurut dia merupakan teologi welas asih yang melintas batas, tak kenal latar belakang apapun. Berbeda dengan ideologi darwin yang menyebut siapa yang kuat ia yang menang. Jadi teologi Al Ma’un ini merangkul semuanya. merangkul yang miskin, juga yang kaya. Pidato Dr. Soetomo luar biasa saat itu,” jelas Haedar, menekankan bahwa inklusivitas telah menjadi DNA gerakan ini.
Namun, warisan yang kokoh itu, menurut Haedar, menuntut respons yang lebih luas dari generasi sekarang.
“Tugas kita adalah mempertajam, memperbanyak cara, memerlukan banyak pranata karena Indonesia begitu luas, segmen masyarakatnya beragam dan dinamika sosialnya tumbuh begitu kompleks yang tidak cukup oleh usaha dakwah dalam satu pintu,” ucapnya.
Ia menelusuri perkembangan pendekatan dakwah Muhammadiyah, dari Jamaah Dakwah Jamaah (1968), Dakwah Kultural (2002), hingga Dakwah Komunitas (2015) yang semakin menyentuh daerah terpencil dan kelompok marjinal.
“Dengan usaha-usaha itu, Muhammadiyah semakin meluas dan jauh, menyentuh daerah-daerah pedesaan, daerah terpencil, dan kawasan-kawasan kumuh,” ungkapnya.
Haedar menutup dengan seruan untuk terus memperluas sapaan dakwah ke segmen masyarakat yang semakin mikro dan beragam, melanjutkan estafet perjuangan yang telah diletakkan oleh para pendiri.