Haedar Nashir Tegaskan Pentingnya Kodifikasi Tauhid Murni bagi Muhammadiyah

Haedar Nashir Tegaskan Pentingnya Kodifikasi Tauhid Murni bagi Muhammadiyah
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat membuka Pengkajian Ramadan 1447 H di UMT, Senin (24/2/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mempertanyakan sejauh mana Muhammadiyah telah mengkodifikasi konsep tauhid murni sebagai sistem pemikiran resmi persyarikatan.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat membuka Pengkajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Tangerang, Senin (24/2/2026).

Dalam forum bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni, Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis” itu, Haedar menekankan pentingnya sistematisasi konsep tauhid agar menjadi rujukan ideologis yang kokoh bagi gerakan Muhammadiyah.

“Akidah, tauhid murni itu, apakah Muhammadiyah sudah betul-betul mengkodifikasi konsep tauhid murni sebagai pemikiran yang tersistem dan menjadi rujukan bersama? Adakah konsep resminya?” ujarnya.

Menurut Haedar, istilah “tauhid murni” memang tidak banyak ditemukan secara eksplisit dalam literatur resmi Muhammadiyah. Namun secara substantif, konsep tersebut tercermin dalam istilah “akidah murni” yang termuat dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) tahun 1969.

“Akidah ujungnya adalah tauhid. Pengertian tentang akidah murni itu ada dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah,” jelasnya.

Ia juga merujuk pada Kitabul Iman dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah yang mulai disusun sejak 1929. Dalam bab pertama terdapat istilah al-‘aqidah as-shahihah yang berarti akidah yang benar atau murni.

“Pada bab pertama ditemukan istilah al-‘aqidah as-shahihah. Artinya akidah yang benar atau murni,” tuturnya.

Haedar menegaskan, sejak awal Muhammadiyah berkomitmen menegakkan akidah yang bersih dari kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat, yang dalam tradisi persyarikatan dikenal dengan gerakan pemberantasan TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat).

“Yang bebas dari kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat tanpa mengabaikan toleransi sesuai ajaran agama,” tegasnya.

Ia menilai, refleksi konseptual mengenai tauhid murni penting untuk terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai slogan normatif, tetapi menjadi sistem pemikiran yang terstruktur dan kontekstual. Dengan demikian, gerakan dakwah Muhammadiyah tetap berakar pada kemurnian akidah sekaligus relevan menjawab dinamika umat dan tantangan zaman.

Pengkajian Ramadan 1447 H ini menjadi momentum konsolidasi ideologis Muhammadiyah dalam mempertegas tauhid sebagai fondasi gerakan serta energi pembaruan sosial-keagamaan.