Internasionalisasi Muhammadiyah Dinilai Perlu Diperkuat Lewat Jejaring dan Diplomasi Global

Internasionalisasi Muhammadiyah Dinilai Perlu Diperkuat Lewat Jejaring dan Diplomasi Global
Ahmad Fuad Fanani dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Internasionalisasi Muhammadiyah perlu diperkuat tidak hanya dengan memperluas kelembagaan di luar negeri, tetapi juga melalui pembangunan jejaring global, produksi pengetahuan, dan diplomasi Islam. Langkah tersebut dinilai penting agar pengalaman serta gagasan Muhammadiyah dapat memberikan kontribusi yang lebih luas dalam percaturan dunia.

Pandangan itu disampaikan Ahmad Fuad Fanani dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dalam paparannya, Fuad membahas empat hal utama, yakni pentingnya patriotisme bagi Muhammadiyah, alasan internasionalisasi, langkah yang telah dan perlu dilakukan, serta tantangan yang harus dihadapi.

Menurut Fuad, internasionalisasi tidak berarti Muhammadiyah harus kehilangan orientasi kebangsaannya. Justru, sejarah Persyarikatan menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap dunia luar dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap Indonesia.

Ia mencontohkan KH Kahar Muzakir dan KH Mas Mansur yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri, tetapi tetap memiliki komitmen terhadap Indonesia. Hal serupa, kata Fuad, terlihat dalam perjalanan KH Ahmad Dahlan yang dua kali pergi ke Makkah dan kemudian membawa pengetahuan yang diperolehnya untuk dikembangkan di Indonesia.

“Yang diambil itu ide Indonesia, bukan ide kejawaan, bukan ke-Yogyakarta-an, bukan ke-Jawa Timur-an ataupun ke luar Jawa,” ujarnya.

Fuad menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa patriotisme dan keterbukaan internasional bukan dua hal yang bertentangan. Muhammadiyah justru memiliki tradisi menyerap gagasan dari berbagai tempat, mengolahnya, kemudian membumikannya sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia.

Internasionalisasi untuk Membangun Jejaring Global

Fuad kemudian menjelaskan bahwa salah satu dasar internasionalisasi Muhammadiyah adalah semangat ta‘aruf atau saling mengenal sebagaimana terkandung dalam QS Al-Hujurat ayat 13. Dalam konteks kekinian, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui diplomasi, pembangunan jejaring, dan hubungan dengan masyarakat di berbagai negara.

“Tujuannya itu untuk ta‘aruf. Ta‘aruf itu kalau bahasa sekarang, ya berdiplomasi, berjejaring, berhubungan dengan yang lain,” katanya.

Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan QS Al-Jumu‘ah ayat 10 yang memuat perintah untuk bertebaran di muka bumi setelah menunaikan salat. Bagi Fuad, pesan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk memperluas kontribusi melalui dakwah, pendidikan, pengabdian, dan jejaring internasional.

“Tidak cukup dengan apa yang kita punyai hari ini,” tegasnya.

Menurut Fuad, kekuatan internasionalisasi Muhammadiyah bertumpu pada dua modal utama, yakni tradisi keilmuan dan kekuatan kelembagaan. Sejak awal, Muhammadiyah memiliki tradisi terbuka terhadap gagasan pembaruan Islam dari berbagai belahan dunia.

Ia mencontohkan KH Ahmad Dahlan yang mempelajari pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, termasuk melalui Tafsir Al-Manar. Gagasan tersebut kemudian tidak sekadar diserap, tetapi diinterpretasikan dan diterapkan sesuai konteks masyarakat Indonesia.

Tradisi pendidikan juga dinilai menjadi modal penting. Tingkat pendidikan kader dan pimpinan Muhammadiyah, menurut Fuad, menjadi salah satu kekuatan yang dapat menopang pengembangan Persyarikatan dalam menghadapi perubahan global.

Bukan Sekadar Membangun Institusi di Luar Negeri

Fuad mengingatkan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah tidak cukup hanya ditandai dengan bertambahnya institusi atau aktivitas Persyarikatan di luar negeri.

Muhammadiyah telah memiliki sejumlah perkembangan internasional, termasuk Universitas Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australian College di Melbourne, serta aktivitas Muhammadiyah melalui jaringan internasionalnya. Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan adanya fondasi kelembagaan untuk memperluas peran Persyarikatan secara global.

Namun, Fuad menyebut berbagai institusi tersebut sebagai hardware. Menurutnya, internasionalisasi membutuhkan software berupa gagasan, kajian, diskusi, dan produksi pengetahuan mengenai Muhammadiyah yang dapat diperbincangkan di tingkat internasional.

Karena itu, ia mendorong penguatan kajian akademik tentang Muhammadiyah. Fuad menceritakan pengalamannya ketika menulis disertasi tentang Muhammadiyah di Australian National University. Menurutnya, pembimbingnya, Greg Fealy, mendorong penelitian tersebut karena kajian internasional mengenai perkembangan Muhammadiyah, terutama setelah era Reformasi, masih terbatas.

Fuad juga mengingat pesan Buya Ahmad Syafii Maarif agar Muhammadiyah dikaji secara kritis dan peneliti tetap menjaga jarak akademik. Menurutnya, tradisi kajian kritis diperlukan agar Muhammadiyah dapat dipahami secara lebih objektif oleh masyarakat internasional.

Muhammadiyah Didorong Aktif dalam Diplomasi Islam

Dalam konteks diplomasi, Fuad menyarankan Muhammadiyah menggunakan pendekatan active hedging. Pendekatan ini menekankan sikap aktif membangun kerja sama dengan berbagai negara dan komunitas tanpa mengikat diri pada satu kelompok atau kekuatan tertentu.

“Active hedging itu kita harus bergerak dan mau bekerja sama dengan siapa saja,” katanya.

Fuad melihat pendekatan tersebut dapat memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang terbuka sekaligus memiliki modal sosial yang kuat. Indonesia juga memiliki sejumlah modal strategis, mulai dari populasi Muslim yang besar, pengalaman demokrasi, sumber daya manusia, hingga kekuatan ekonomi.

Di sisi lain, Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan, kesehatan, pesantren, dan berbagai amal usaha yang dapat menjadi infrastruktur bagi penguatan peran internasional.

“Jadi saya kira itu merupakan modal besar,” ujarnya.

Fuad juga mendorong Muhammadiyah mengambil peran sebagai jembatan antara Islam dan Barat. Kerja sama dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan berbagai organisasi lainnya dinilai dapat memperkuat dialog serta mengurangi kesalahpahaman antara masyarakat Muslim dan Barat.

“Ini kan modal diplomasi yang lebih besar,” ujarnya.

Muhammadiyah Berpeluang Berkontribusi dalam Penyelesaian Konflik

Lebih jauh, Fuad mendorong Muhammadiyah membuka ruang lebih luas bagi imam dan tokoh Muslim dari berbagai negara. Keterbukaan tersebut dapat menjadi bagian dari diplomasi Islam yang moderat sekaligus mencegah terbentuknya komunitas Muslim yang terisolasi berdasarkan asal negara atau mazhab.

Ia juga melihat peluang Muhammadiyah untuk memainkan peran lebih besar dalam penyelesaian konflik internasional, termasuk menjadi mediator dalam konflik di Timur Tengah.

Menurut Fuad, kemampuan menjadi mediator tidak hanya dimiliki negara. Hubungan antarmasyarakat atau people-to-people relations juga dapat menjadi pintu untuk membangun kepercayaan dan membuka ruang dialog.

“Jadi soal mediasi ini sebetulnya bisa kita lakukan dan kita bisa konkretkan,” katanya.

Untuk mendukung peran tersebut, Muhammadiyah memiliki jaringan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), sekolah, perguruan tinggi, serta berbagai amal usaha di sejumlah negara.

Namun, kekuatan jaringan tersebut perlu berjalan beriringan dengan produksi gagasan. Fuad menilai dunia internasional perlu mengenal Muhammadiyah bukan hanya melalui nama dan tokohnya, melainkan melalui pemikiran, pengalaman, serta kontribusi nyata Persyarikatan.

Pada akhirnya, internasionalisasi Muhammadiyah dinilai bukan sekadar upaya memperluas keberadaan organisasi di luar negeri. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya membawa pengalaman gerakan, tradisi keilmuan, dan kontribusi Muhammadiyah ke ruang global.

Dengan modal kelembagaan, sumber daya manusia, tradisi pendidikan, dan jejaring yang telah dimiliki, Muhammadiyah dinilai memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam diplomasi Islam sekaligus berkontribusi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan global.