Irwan Akib: Bonus Demografi Tak Akan Bermakna Tanpa Keteladanan Moral Menuju Indonesia Emas 2045

Irwan Akib: Bonus Demografi Tak Akan Bermakna Tanpa Keteladanan Moral Menuju Indonesia Emas 2045
Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, mengingatkan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan otomatis menjadi modal menuju Indonesia Emas 2045 apabila tidak dibarengi dengan pembangunan karakter dan keteladanan moral. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh integritas serta akhlak generasi penerus.

Pernyataan tersebut disampaikan Irwan pada Kamis (23/7). Ia menilai bonus demografi yang selama ini disebut sebagai “jembatan emas” menuju Indonesia Emas 2045 harus diimbangi dengan pembentukan karakter yang kuat agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul sekaligus berintegritas.

Menurut Irwan, keluarga dan sekolah selama ini telah menjalankan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak, seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, tenggang rasa, dan kesederhanaan. Namun, pendidikan karakter tersebut menghadapi tantangan besar ketika generasi muda berhadapan dengan realitas di ruang publik, terutama melalui media massa dan media sosial.

“Di rumah dan di sekolah, anak-anak diajarkan nilai-nilai moral yang tinggi. Orang tua dan guru menjadikan dirinya sebagai teladan dengan menanamkan kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, dan kesederhanaan. Namun, benteng moral itu dapat runtuh ketika anak-anak menyaksikan realitas yang bertolak belakang di ruang publik,” ujarnya.

Irwan menyoroti masih maraknya kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat negara. Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika pelaku tetap tampil di ruang publik tanpa menunjukkan rasa bersalah, sementara gaya hidup mewah hasil penyalahgunaan uang rakyat dipamerkan secara terbuka.

Fenomena tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan disonansi moral bagi generasi muda. Nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi bertolak belakang dengan contoh yang mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Irwan menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan lembaga pendidikan. Negara, para pemimpin, media, tokoh masyarakat, hingga seluruh elemen bangsa harus menghadirkan ruang publik yang bersih, berintegritas, dan penuh keteladanan.

Ia menilai keteladanan merupakan metode pendidikan karakter yang paling efektif karena anak-anak cenderung belajar dari perilaku nyata dibandingkan sekadar nasihat.

Irwan juga menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun daya saing global, tetapi juga dari keberhasilan membangun masyarakat yang berakhlak, berintegritas, dan berkeadaban.

“Bila bonus demografi dibarengi dengan keteladanan moral, maka Indonesia akan memiliki generasi emas yang mampu membawa bangsa ini menjadi negara yang maju sekaligus bermartabat,” pungkasnya.