Islam Berkemajuan Jadi Fondasi Penguatan Dakwah dan AUM, Haedar Nashir Ingatkan Jati Diri Muhammadiyah
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai landasan utama dalam mengelola dakwah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pesan itu ia sampaikan saat pengukuhan Direksi RS PKU Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Gombong, Kebumen, Minggu (8/12).
Haedar menekankan bahwa Islam Berkemajuan harus menjadi cara pandang, bingkai berpikir, sekaligus pedoman gerak seluruh amal usaha Muhammadiyah. Karena itu, ia mengingatkan agar Muhammadiyah tidak meminjam ideologi dari luar dalam mengelola dakwahnya.
“Kaya sekali Muhammadiyah itu merumuskan pikiran-pikiran dari pandangan keislamannya untuk menjadi ideologi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah memiliki sejumlah rumusan normatif yang dapat menjadi pijakan, mulai dari Khittah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup, Kepribadian Muhammadiyah, hingga Risalah Islam Berkemajuan. Seluruhnya merupakan fondasi ideologis yang utuh dan memadai untuk menghadapi tantangan zaman.
Mengulas salah satu pedoman tersebut, Haedar menegaskan bahwa Sepuluh Kepribadian Muhammadiyah bukan hanya rumusan normatif, melainkan panduan implementatif yang menunjukkan karakter moderat Muhammadiyah.
“Watak wasathiyyah (moderat/tengahan) ini apakah menjadi frame kita?” tutur Haedar.
Menurutnya, tafsir amar ma’ruf nahi munkar yang dijalankan Muhammadiyah juga memiliki karakter moderat yang khas, termasuk penekanan pada keteladanan.
“Amar ma’ruf nahi munkar itu ada ideologinya sebenarnya dan alam pikiran tertentu. Yang Muhammadiyah tidak seutuhnya itu, ada tafsirnya, ada pemahaman yang kesimpulannya Muhammadiyah lebih moderat,” tambahnya.
Haedar turut mengingatkan bahwa Kepribadian Muhammadiyah lahir dari konteks sejarah penting, yakni ketika para tokoh Partai Masyumi kembali ke Muhammadiyah pasca pembubaran partai tersebut. Mereka membawa pola pengelolaan organisasi ala partai politik ke dalam Muhammadiyah, yang pada akhirnya membuat beberapa gerak dakwah dan amal usaha sempat terabaikan.
Kisah tersebut, kata Haedar, menjadi pelajaran penting agar Muhammadiyah senantiasa kembali pada jati dirinya—yakni organisasi yang bergerak dengan nilai Islam Berkemajuan serta semangat moderasi.