Izzul Muslimin: Masjid Jogokariyan Bukti Masjid Bisa Jadi Pusat Kemaslahatan Umat
TVMU.TV - Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Izzul Muslimin menegaskan bahwa Masjid Jogokariyan di Yogyakarta menjadi contoh nyata bagaimana masjid dapat bertransformasi menjadi pusat kemaslahatan umat, bukan sekadar tempat ibadah ritual.
Pernyataan tersebut disampaikan Izzul dalam program Ruang Publik TvMu dengan tema Inspirasi dari Jogokariyan yang disiarkan melalui kanal YouTube TvMu, Sabtu malam (28/12).
Menurutnya, keberhasilan Masjid Jogokariyan terletak pada tata kelola yang transparan dan berpihak sepenuhnya kepada kepentingan jamaah serta masyarakat sekitar.
“Karena pengelolaannya yang luar biasa, akhirnya masjid di Jogokariyan ini menjadi masjid teladan. Masjid yang menjadi rujukan dan bahkan dikenal masyarakat luas secara mungkin nasional lah, saya sebutkan seperti itu,” ujar Izzul.
Masjid Jogokariyan, yang berada di bawah pengelolaan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karangkajen, dikenal luas bukan karena kemegahan bangunannya, melainkan karena sistem manajemen masjid yang menempatkan dana umat sepenuhnya untuk kepentingan umat. Tidak ada kas masjid yang mengendap, seluruh dana dikelola dan diputar untuk pelayanan jamaah dan kegiatan sosial.
Izzul menilai, model pengelolaan Masjid Jogokariyan membuktikan bahwa masjid dapat menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran masjid secara konsisten telah menggerakkan kehidupan sosial warga di sekitarnya.
Berangkat dari praktik baik tersebut, Muhammadiyah pada Muktamar 2022 menetapkan arah penguatan dan pemberdayaan masjid-masjid persyarikatan di seluruh Indonesia. Izzul menjelaskan, langkah strategis ini dilakukan melalui pembagian peran antara Majelis Tabligh dan Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Masjid (LPCRM).
“Yang pertama, Majelis Tabligh untuk penguatan mubalighnya. Kemudian yang kedua adalah pengembangan cabang dan ranting atau LPCRM ya, yang lebih fokus pada bagaimana pengelolaan masjid dalam arti me-manage masjid,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Muhammadiyah telah mulai menggelar pelatihan manajerial bagi pengurus masjid persyarikatan, salah satunya di Sragen. Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya masjid-masjid yang dikelola secara profesional dan berdampak luas bagi masyarakat.
Meski demikian, Izzul menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak menuntut seluruh masjid meniru Masjid Jogokariyan secara utuh. Setiap masjid memiliki karakter, potensi, dan konteks sosial yang berbeda.
“Masing-masing tentu punya ciri khas masing-masing, disesuaikan dengan keadaan masjid. Tetapi intinya adalah bagaimana masjid itu bisa dikelola untuk kemaslahatan masyarakat secara luas,” tutup Izzul.
Dengan pendekatan tersebut, Muhammadiyah berharap masjid-masjid persyarikatan dapat menjadi pusat dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan peradaban umat yang relevan dengan kebutuhan zaman.