Majelis Tabligh Ggelar Rakernas II, Tekankan Masjid Sebagai Pusat Literasi dan Kesejahteraan

Majelis Tabligh Ggelar Rakernas II, Tekankan Masjid Sebagai Pusat Literasi dan Kesejahteraan
Pembukaan Rakernas II Majelis Tabligh PP Muhammadiyah di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (24/10). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II di Kota Batu, Jawa Timur, pada 24 hingga 26 Oktober 2025, dengan fokus utama merevitalisasi fungsi masjid. 

Acara ini menjadi panggung penting untuk merumuskan strategi dakwah di tengah tantangan zaman, termasuk fenomena gaya hidup digital dan krisis spiritual Gen Z.

Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, dalam pembukaan pada Jumat (24/10) mengapresiasi tema Rakernas, yakni “Masjid Berkemajuan sebagai Pusat Gerakan Ilmu, Dakwah, dan Kesejahteraan Umat”. Baginya, tema ini merupakan refleksi mendalam yang relevan dengan kebutuhan umat saat ini.

Saad menekankan bahwa konsep kesejahteraan yang diangkat mencakup dua dimensi: material dan spiritual. Poin kuncinya terletak pada integrasi masjid dengan dunia keilmuan atau literasi.

“Maknanya betapa pentingnya menghadirkan masjid pada dunia literasi – secara singkat kemudian disebut dengan ilmu yang itu mestinya juga punya dampak secara langsung, tidak langsung pada kesejahteraan umat,” ujar Saad, mengaitkan hal ini dengan perintah pertama Al-Qur'an, yaitu perintah membaca.

“Maka tema yang dipilih oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat ini hemat saya itu semacam ilham untuk kita renungkan,” tambahnya.

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, menyampaikan bahwa fokus pada masjid adalah upaya menanggapi bahaya sekularisasi yang telah diputuskan dalam Muktamar ke-45. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah pergeseran perilaku generasi muda.

Selain itu, Fathurrahman menyoroti pola kehidupan Gen Z yang cenderung ‘mempertuhankan’ kehidupan digital, bahkan memunculkan fenomena new atheism yang menafikan peran Tuhan dan agama.

“Inilah yang kita hadapi. Apa yang dikatakan oleh Muhammadiyah kita sebagai fakta kekosongan spiritual, relativisme, nilai di dalam kehidupan dan pada akhirnya kita mengalami krisis makna kehidupan,” ungkap Fathurrahman, menegaskan perlunya transformasi dakwah Muhammadiyah.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustaz Adi Hidayat (UAH), memberikan penekanan bahwa Rakernas harus membuahkan resolusi konkret untuk menciptakan masjid-masjid berkualitas dan berkemajuan.

UAH mendorong adanya kolaborasi dakwah yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas yang tidak hanya spiritual, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan, menjadikannya laboratorium kebaikan.

“Integrasikan untuk umat. Tampilkan wajah Islam sebagai solusi bagi teman-teman yang belum Muslim,” tegas UAH, menyerukan kolaborasi dakwah dalam bidang kemasjidan untuk mewujudkan Islam yang solutif bagi semua lapisan masyarakat.

Rakernas II Majelis Tabligh ini diharapkan menjadi tonggak untuk memperkuat peran strategis masjid Muhammadiyah sebagai benteng spiritual dan pusat pemberdayaan umat di era disrupsi digital.