Makroen Sanjaya: Televisi Dakwah Harus Berani Melawan Arus “Rating”
Direktur Utama TV Muhammadiyah, Makroen Sanjaya, menegaskan pentingnya televisi dakwah berani menentang arus rating dan mengembalikan peran media sebagai sarana moral dan pencerahan masyarakat.
TVMU.TV - Direktur Utama TV Muhammadiyah (tvMu), Makroen Sanjaya menekankan pentingnya televisi dakwah mengambil peran strategis dalam memperbaiki moral publik.
Makroen bukan orang baru di dunia penyiaran. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di media televisi swasta, ia memahami betul dinamika industri ini—terutama bagaimana persaingan rating telah mengubah arah dan idealisme media.
“Selama 21 tahun saya berkecimpung di media televisi swasta dan mengalami pasang surut dunia pemberitaan yang sangat dinamis. Dari pengalaman itu saya menyimpulkan, betapa beratnya tugas televisi dakwah atau religi. Sebab, salah satu tanggung jawabnya adalah memperbaiki moral masyarakat yang sudah terlanjur rusak oleh tayangan sinetron,” ujarnya dalam Seminar Diseminasi Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Periode II Tahun 2024 di Aula Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat (10/10).
Menurut Makroen, industri televisi di Indonesia kini terjebak dalam lingkaran setan bernama ‘rating’. Ukuran kesuksesan sebuah program televisi tidak lagi ditentukan oleh nilai-nilai edukatif atau manfaat sosial, melainkan oleh seberapa tinggi angka rating yang diperoleh. Semakin tinggi rating, semakin besar potensi keuntungan dari iklan.
Akibatnya, banyak stasiun televisi mengambil jalan pintas — memilih menayangkan program yang laris di pasaran meski miskin nilai moral.
Makroen menilai, fenomena ini telah menurunkan kualitas tayangan di Indonesia. Sinetron yang seharusnya menjadi media edukasi justru berubah menjadi tontonan yang memperlihatkan kekerasan, kebodohan, dan perilaku negatif. Dampaknya, masyarakat — terutama anak-anak dan remaja — tanpa sadar meniru perilaku yang ditampilkan di layar kaca.
Ia mengingatkan, ketika media hanya mengejar angka tanpa mempertimbangkan fungsi sosial, maka televisi kehilangan ruhnya sebagai sarana pencerahan publik.
“Rating tinggi dianggap sebagai simbol kesuksesan, sedangkan penurunan rating sering kali menjadi alasan untuk menghentikan program, tanpa mempertimbangkan nilai edukatif atau manfaat sosialnya,” jelas Makroen.
Sebagai pemimpin TV Muhammadiyah, Makroen menegaskan bahwa televisi dakwah harus berani melawan arus komersialisasi media. Televisi dakwah, menurutnya, bukan sekadar tentang siaran agama, tetapi juga upaya membangun moral dan karakter masyarakat di tengah derasnya arus hiburan modern.
Ia menutup pesannya dengan keyakinan bahwa televisi digital menghadirkan peluang baru bagi media dakwah untuk menyiarkan kebaikan dengan cara yang lebih modern, inklusif, dan menyentuh generasi muda.