Muhadjir Effendy Ajak Muhammadiyah Hidupkan Kembali DNA Saudagar demi Perkuat Kemandirian Ekonomi

Muhadjir Effendy Ajak Muhammadiyah Hidupkan Kembali DNA Saudagar demi Perkuat Kemandirian Ekonomi
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy/ Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali semangat kewirausahaan atau DNA saudagar sebagai fondasi memperkuat kemandirian ekonomi Muhammadiyah. Menurutnya, gerakan dakwah Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak dapat dipisahkan dari etos bisnis yang sehat dan produktif.

Pesan tersebut disampaikan Muhadjir saat memberikan materi dalam Pengajian Pimpinan Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan di Palembang, Senin (27/7).

Muhadjir menjelaskan, Muhammadiyah didirikan oleh para ulama yang juga memiliki jiwa kewirausahaan. Pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, dikenal sebagai pedagang batik yang menjadikan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari dakwah.

“Pendiri Muhammadiyah sendiri, Kyai Ahmad Dahlan pada dasarnya adalah pedagang batik. Jadi kalau dakwah ke mana-mana itu membawa contoh batik,” jelas Muhadjir.

Ia menuturkan, semangat tersebut juga diwariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya melalui putra Kiai Ahmad Dahlan, Dhurie Dahlan, yang dikirim ke Eropa untuk mempelajari dunia bisnis. Sekembalinya ke Indonesia, Dhurie mengembangkan berbagai usaha, mulai dari menjadi importir sepeda hingga mendirikan pabrik sarung yang produknya dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Bangladesh, Thailand, dan Myanmar.

Namun, Muhadjir menilai tradisi kewirausahaan itu perlahan memudar seiring perubahan orientasi profesi warga Muhammadiyah sejak era Orde Baru.

“Seiring berkembangnya Muhammadiyah, terjadi pergeseran profesi yang masif. Sejak masa orde baru, 90% orang Muhammadiyah mulai memasuki sektor birokrasi, sehingga yang terjadi adalah tradisi saudagar itu mulai ditinggalkan,” jelasnya.

Karena itu, Muhammadiyah kini berupaya mengembalikan karakter kewirausahaan tersebut melalui transformasi menjadi korporasi sosial keagamaan. Menurut Muhadjir, konsep ini bukan menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang berorientasi pada keuntungan semata, melainkan membangun unit usaha yang sehat agar manfaat ekonominya dapat kembali kepada masyarakat.

“Kita harus membangun unit-unit bisnis yang menguntungkan. Hanya saja bedanya dengan korporasi pada umumnya, keuntungan itu harus kita gunakan kembali untuk sebesar-besarnya memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, konsep tersebut selaras dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan asas kekeluargaan sebagai fondasi pembangunan ekonomi nasional. Dengan jaringan organisasi yang luas, Muhadjir optimistis Muhammadiyah memiliki potensi berkembang menjadi super holding sosial-keagamaan yang berdaya saing.

Sebagai langkah konkret, PP Muhammadiyah terus membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi melalui berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Muhadjir mencontohkan keberhasilan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengembangkan beragam unit usaha, seperti hotel, rumah sakit, bengkel otomotif, hingga penginapan berbasis kontainer.

Selain itu, PP Muhammadiyah juga tengah mempersiapkan pembangunan pabrik infus yang ditargetkan mulai beroperasi sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-49. Di sektor perdagangan, Muhammadiyah terus memperluas jaringan ritel Mentari Mart sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi persyarikatan.

“Lihat saja, bisnis yang paling aman dari masuk angin politik itu ritel. Hal ini karena setiap orang pasti butuh makan. Jadi inilah upaya kita untuk terus menyebarluaskan Mentari Mart agar sampai ke seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Muhadjir juga mengingatkan pentingnya peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah harus terus meningkatkan kualitas agar mampu bersaing sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat.

“Kalau kita ingin survive, maka sekolah kita harus bagus. Nah, saya punya mimpi sebetulnya. Kalau kita punya bisnis yang profitable, guru dari sekolah-sekolah yang masih belum bagus gajinya dapat disubsidi dari Muhammadiyah dan Pusat,” kata Muhadjir.

Menutup pemaparannya, Muhadjir mengajak seluruh pimpinan, kader, dan Amal Usaha Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali etos saudagar yang pernah menjadi kekuatan utama persyarikatan. Menurutnya, kemandirian ekonomi menjadi prasyarat penting agar Muhammadiyah dapat memperluas dakwah berkemajuan sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

“Kita harus membangun unit-unit bisnis yang kuat agar hasilnya kembali untuk dakwah dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.