Muhammadiyah Dorong Lulusan Kampus Jadi Pencipta Lapangan Kerja di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
TVMU.TV - Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bambang Setiadji, mendorong lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) untuk membangun kemandirian ekonomi dan tidak bergantung sepenuhnya pada peluang kerja formal yang semakin kompetitif.
Pesan tersebut disampaikan Bambang saat memberikan sambutan pada Wisuda Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) di Bekasi, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Bambang, kondisi ekonomi global dan nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan berdampak pada dunia industri, termasuk melambatnya penyerapan tenaga kerja. Situasi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi untuk lebih adaptif dan kreatif dalam menciptakan peluang usaha.
“Kalau dalam ekonomi yang memanas mungkin pengusaha industri akan mengerem untuk perekrutan tenaga kerja,” ungkap Bambang.
Ia menilai perkembangan teknologi digital telah membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk membangun usaha secara mandiri. Karena itu, lulusan PTMA perlu memanfaatkan kemajuan teknologi dan platform digital sebagai sarana mengembangkan bisnis.
“Buatlah usaha, sekarang itu era toko-toko online dengan sangat mudah itu dibuat. Pokoknya eranya itu era kemandirian – namanya gauge economy,” katanya.
Bambang menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi menjadi pencari kerja. Sebaliknya, mereka harus berani menjadi pencipta lapangan kerja yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Buatlah usahamu sendiri, sesuai impianmu sendiri. Wujudkanlah ekonomi kemandirian,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Afriansyah Noor, menyampaikan pandangan serupa terkait tantangan dunia kerja yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, dunia industri saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi nyata yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap, mereka yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap langsung berkontribusi,” ujar Afriansyah.
Ia berharap Muhammadiyah terus berperan aktif membantu pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, menguasai teknologi, serta memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat.
Dorongan tersebut sejalan dengan upaya berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan mahasiswa. Selain mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, kampus juga diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang mandiri secara ekonomi dan mampu membuka peluang kerja baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dengan jaringan lebih dari 160 perguruan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah di Indonesia, Muhammadiyah terus mendorong transformasi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga penguatan karakter, inovasi, dan kemandirian ekonomi bagi para lulusannya.