Din Syamsuddin: Umur Terus Berkurang, Isi Sisa Kehidupan dengan Amal yang Membawa Kemaslahatan
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, Din Syamsuddin, mengingatkan bahwa setiap manusia tidak akan pernah mengetahui batas akhir kehidupannya. Karena itu, ia mengajak umat Islam mensyukuri nikmat usia sekaligus memanfaatkan sisa kehidupan dengan memperbanyak amal saleh yang membawa kemaslahatan.
Pesan tersebut disampaikan Din saat mengisi Pengajian Rabu Pahing di Halaman Parkir Gedung KH Sudja’, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Din, banyak orang memahami usia sebagai sesuatu yang terus bertambah. Padahal, yang sesungguhnya terus berkurang adalah umur karena setiap hari manusia semakin mendekati ajal yang telah ditetapkan Allah SWT.
“Sebenarnya yang panjang itu bukan umur, melainkan usia. Walau diberikan usia panjang, umur itu pasti berkurang dari tahun ke tahun,” ujar Din.
Ia kemudian mengutip syair Al-I’tiraf karya Abu Nawas yang berbunyi Wa ’umrii naaqishun fii kulli yaumin yang berarti ‘Umurku ini setiap hari berkurang’.
“Umur berkurang, bukan bertambah. Kita tidak tahu berapa ketentuan Allah bagi kita tentang umur ini,” tegasnya.
Din menegaskan bahwa kematian merupakan ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dipercepat maupun ditunda oleh siapa pun.
“Itulah ketentuan Allah tentang Al-Maut,” katanya.
Karena itu, menurutnya, pertanyaan terpenting dalam kehidupan bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana sisa umur tersebut dimanfaatkan.
“Yang perlu kita renungkan adalah, digunakan untuk apa sisa umur yang masih Allah berikan kepada kita?” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Din mengutip hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Imam At-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang memiliki usia panjang dan diisi dengan amal perbuatan yang baik.
“Sebaik-baik seseorang adalah orang yang panjang usianya dan bagus amalnya. Yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Inilah yang akan memperoleh husnul khatimah,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa amal terbaik bukan hanya yang bernilai ibadah secara personal, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi orang lain dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
“Penuh dengan amal saleh, amal kebaikan, amal kebenaran, dan amal yang berdampak kemaslahatan yang bermanfaat. Itu adalah orang-orang yang akan memperoleh husnul khatimah,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Din mengingatkan agar umat Islam menjaga kemurnian tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Di sisi lain, ia mendorong umat memperbanyak ibadah seperti berzikir dan membaca Al-Qur’an, sekaligus memperkuat kepedulian sosial melalui infak, sedekah, zakat, serta berbagai bentuk kontribusi bagi masyarakat.
Menurutnya, amal saleh tidak selalu berbentuk materi. Menyumbangkan gagasan dan pemikiran yang bermanfaat bagi kemajuan umat juga merupakan bagian dari ibadah.
“Cukup dengan memberi pikiran-pikiran terbaik untuk kebaikan umat. Dan itu juga termasuk bentuk-bentuk amal saleh,” ujarnya.
Menutup tausiahnya, Din mengajak umat Islam mempersiapkan generasi penerus yang saleh dan salehah. Ia menilai kehadiran generasi berkarakter dan berakhlak mulia menjadi investasi jangka panjang yang akan melahirkan kehidupan masyarakat yang lebih baik, bermakna, dan berkemajuan.