Muhammadiyah Perluas Dukungan untuk Palestina, dari Bantuan Kemanusiaan hingga Beasiswa

Muhammadiyah Perluas Dukungan untuk Palestina, dari Bantuan Kemanusiaan hingga Beasiswa
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni bersama Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah menerima Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: PP Muhammadiyah.

TVMU.TV - Dukungan Muhammadiyah terhadap Palestina terus diarahkan tidak hanya pada bantuan kemanusiaan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pembangunan perdamaian, penguatan ketahanan mental, dukungan psikososial, hingga akses pendidikan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Duta Besar Palestina diterima Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni bersama Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah. Dalam pertemuan tersebut, Al-Sattari menyampaikan apresiasi atas dukungan Muhammadiyah terhadap perjuangan dan kehidupan masyarakat Palestina.

Al-Sattari merupakan Duta Besar Palestina untuk Indonesia yang mulai menjabat pada Januari 2026 dan tercatat sebagai duta besar Palestina pertama untuk Indonesia yang berasal dari Gaza. 

Pertemuan juga membahas kondisi masyarakat Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat, serta berbagai tantangan akibat konflik berkepanjangan, termasuk persoalan pengungsian, akses layanan kesehatan, dan kebutuhan pemulihan masyarakat.

Dari Bantuan Kemanusiaan hingga Pemberdayaan

Yayah Khisbiyah mengatakan dukungan Muhammadiyah terhadap Palestina selama ini telah mencakup berbagai bentuk bantuan kemanusiaan, mulai dari kebutuhan pokok hingga layanan kesehatan. Namun, Muhammadiyah kini berupaya memperluas pendekatan agar dukungan tersebut juga menyentuh aspek pemberdayaan dan pembangunan kapasitas masyarakat.

“Yang mungkin baru adalah kami mengidentifikasi bantuan-bantuan apa saja selain bantuan kemanusiaan yang sudah lazim diberikan, berupa makanan pokok, obat-obatan, tenaga medis, shelter untuk pengungsian, kadang juga masjid dan tentu rumah sakit,” ujar Yayah.

Salah satu program yang dikembangkan adalah pemberdayaan ekonomi bagi perempuan penyintas perang. Program tersebut diarahkan untuk membantu mereka mempertahankan kehidupan sekaligus membangun kembali kemandirian ekonomi di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.

Muhammadiyah juga mengembangkan program bina perdamaian bagi kaum muda Palestina sejak 2024. Program ini diarahkan untuk membantu generasi muda memahami akar konflik, dinamika yang melatarbelakanginya, serta berbagai pendekatan penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

“Selama beberapa tahun terakhir ini Muhammadiyah membuat program yang relatif baru, sebagai salah satu organisasi yang paling awal melakukannya, yaitu program bina perdamaian untuk kaum muda. Mereka diajak memahami apa asal-muasal konflik, bagaimana terjadinya, mengapa terjadi, dan bagaimana menyelesaikannya tanpa kekerasan,” jelas Yayah.

Perkuat Ketahanan Mental Penyintas Perang

Selain pembangunan perdamaian, Muhammadiyah juga menaruh perhatian pada ketahanan mental masyarakat Palestina yang menghadapi tekanan akibat konflik berkepanjangan.

Yayah mengatakan program resiliensi dikembangkan untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan psikologis, stres, dan depresi, sekaligus menjaga semangat untuk tetap bertahan dan membangun masa depan Palestina.

“Karena ketahanan mental digempur sedemikian rupa, banyak yang ingin keluar dari Palestina. Kalau mereka keluar dari Palestina dan tanahnya kosong, tentu akan semakin mudah untuk diambil. Karena itu, kami melakukan program-program resiliensi atau ketahanan mental untuk menghadapi stres dan depresi, tetapi tetap menjaga spirit perjuangan,” tuturnya.

Dukungan psikososial juga diberikan kepada kaum muda dan perempuan penyintas perang. Program tersebut turut mencakup pendampingan bagi penyintas kanker yang menghadapi tantangan kesehatan di tengah kondisi konflik.

“Di samping itu, kami memberikan bantuan untuk dukungan psikososial kepada kaum muda, ibu-ibu korban dan penyintas perang, sekaligus juga kepada penyintas kanker,” imbuh Yayah.

Muhammadiyah Dorong Beasiswa untuk Pemuda Palestina

Selain bantuan dan pemberdayaan, akses pendidikan menjadi agenda lain yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Muhammadiyah mendorong peningkatan kesempatan bagi pemuda dan pemudi Palestina untuk menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Yayah mengatakan jumlah mahasiswa internasional di berbagai PTMA cukup besar. Namun, mahasiswa asal Palestina masih relatif sedikit dibandingkan mahasiswa dari sejumlah negara lain.

Karena itu, Muhammadiyah melihat perlunya memperluas program beasiswa bagi generasi muda Palestina. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas generasi muda sekaligus mempersiapkan mereka berkontribusi bagi masyarakat dan negaranya.

“Yang terakhir adalah bagaimana kita bisa meningkatkan jumlah beasiswa untuk pemuda-pemudi Palestina di PTMA. Jumlah mahasiswa internasional kita sangat banyak, tetapi yang menerima mahasiswa Palestina masih sedikit dibandingkan dengan negara seperti Thailand, Sudan dan lainnya,” ungkap Yayah.

Upaya memperluas akses pendidikan tersebut sejalan dengan kerja sama Muhammadiyah dengan institusi pendidikan Palestina. Pada 2025, Muhammadiyah dan Al-Quds University, misalnya, membahas penguatan kerja sama akademik serta rencana pengembangan Jerusalem and Palestine Study Center di lingkungan PTMA. 

Perkuat Kerja Sama Muhammadiyah-Palestina

Pertemuan dengan Duta Besar Palestina menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara Muhammadiyah dan perwakilan Palestina di Indonesia. Kerja sama ke depan diarahkan tidak hanya pada respons terhadap kebutuhan darurat, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat Palestina.

Agenda tersebut mencakup pemberdayaan ekonomi, pembangunan perdamaian, ketahanan mental, dukungan psikososial, dan pendidikan.

Dengan pendekatan tersebut, Muhammadiyah berupaya memperluas dukungan bagi Palestina dari sekadar respons kemanusiaan menuju program jangka panjang yang membantu masyarakat Palestina bertahan, meningkatkan kapasitas, serta mempersiapkan masa depan di tengah konflik yang belum berakhir.