Saad Ibrahim: Kekuasaan Harus Berpijak pada Amanah, Bukan Kepentingan Elite atau Asing

Saad Ibrahim: Kekuasaan Harus Berpijak pada Amanah, Bukan Kepentingan Elite atau Asing
Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim dalam program Tausiyah Kiayi Saad yang disiarkan di tvMu dan YouTube tvMu Channel. Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim menegaskan bahwa kekuasaan akan kehilangan makna apabila dijalankan untuk melayani kepentingan elite maupun tunduk pada intervensi pihak asing. Menurutnya, pemimpin yang tidak merdeka dalam mengambil keputusan sejatinya hanya menjalankan kehendak pihak yang memberinya kekuasaan.

Pandangan tersebut disampaikan Saad dalam program Tausiyah Kiayi Saad yang disiarkan melalui kanal tvMu, Rabu (15/7/2026).

Mengawali tausiahnya, Saad mengutip pemikiran pembaru Islam Jamaluddin al-Afghani (1838–1897) yang termuat dalam buku Zu’ama’ al-Ishlah fi al-’Ashr al-Hadits karya sejarawan Mesir, Ahmad Amin.

“Penguasa yang tunduk pada kepentingan elite atau intervensi asing sesungguhnya telah kehilangan kekuatan dan kekuasaannya. Keberadaannya hanya bersifat semu dan ia hanya menjalankan kehendak pihak yang memberinya kekuasaan,” kutip Saad.

Menurut Saad, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual. Kepemimpinan juga harus dibangun di atas kedalaman spiritual agar setiap kebijakan lahir dari pertimbangan akal yang sehat sekaligus hati yang bersih.

“Ketika keduanya dimiliki, maka seseorang akan menjadi pribadi yang merdeka,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan berpikir akan membuat seorang pemimpin tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan kelompok tertentu, melainkan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Saad mengingatkan bahwa manusia mengemban amanah sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi), namun seluruh kekuasaan pada hakikatnya tetap milik Allah SWT.

“Kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia niscaya akan diambil kembali sewaktu-waktu oleh Allah,” katanya.

Ia merujuk pada Surah Ali Imran ayat 26 yang menjelaskan bahwa Allah memberikan dan mencabut kekuasaan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Karena itu, menurut Saad, kekuasaan tidak boleh dipandang sebagai simbol kemuliaan seseorang.

“Inilah ajaran teologis yang memberikan dimensi penting dalam memahami kekuasaan,” jelasnya.

Saad menambahkan, pemimpin yang mampu memadukan kecerdasan berpikir dengan kedalaman spiritual akan lebih siap menjalankan amanah secara adil dan bertanggung jawab.

“Ketika kekuasaan dikelola oleh seseorang yang memiliki pikiran yang cerdas, lalu mampu menimbangnya dengan kedalaman rohani, itulah bentuk kemampuannya dalam melaksanakan amanah,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa mengelola kekuasaan bukan perkara mudah. Oleh sebab itu, setiap pemimpin harus senantiasa bersandar kepada Allah SWT agar setiap kebijakan yang diambil berpihak pada nilai-nilai kebaikan.

“Bukan sekadar formalitas di atas kertas, tetapi juga meresap hingga ke dalam jiwa. Dalam hati, segala urusan senantiasa kita kembalikan kepada Allah,” ujarnya.

Dalam tausiahnya, Saad juga menegaskan bahwa politik pada hakikatnya merupakan seni mengelola kekuasaan. Karena itu, praktik politik harus dibangun di atas nilai-nilai teologis, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kesadaran menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.

“Politik yang berdasarkan pada dasar teologis, menghargai orang, dan melaksanakan tugas sebagai khalifah dengan baik. Politik seperti itulah yang akan membawa pada kebaikan,” katanya.

Menutup tausiahnya, Saad mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah pujian manusia, melainkan kemampuan mempertanggungjawabkan amanah di hadapan Allah SWT.

“Baik kekuasaan makro dalam lingkup negara maupun kekuasaan mikro dalam lingkup organisasi atau keluarga, semuanya memiliki pertanggungjawaban kepada Allah,” pungkasnya.