Irwan Akib: Pendidikan Anak Kini Harus Mencakup Ruang Digital dan Media Sosial
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib menegaskan bahwa pendidikan anak pada era digital tidak lagi cukup bertumpu pada sekolah, keluarga, dan masyarakat. Menurutnya, ruang digital, khususnya media sosial, kini telah menjadi lingkungan pendidikan yang turut membentuk karakter dan perilaku peserta didik.
Pernyataan tersebut disampaikan Irwan di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Di Tiro No. 23, Kota Yogyakarta, Senin (13/7/2026), saat menyampaikan pandangannya mengenai tantangan pendidikan di era digital.
Irwan mengatakan, setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas, baik melalui sekolah, keluarga, masyarakat, maupun keteladanan para tokoh publik yang hadir di ruang digital.
Merujuk konsep Tri Pusat Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara, Irwan menilai paradigma tersebut perlu diperluas mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak sehingga tidak bisa lagi dipisahkan dari proses pendidikan.
“Kita harus menambah satu lagi untuk saat ini, yaitu digital maupun media sosial. Kita tidak cukup lagi melihat sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat sebagai ruang pendidikan ideal bagi anak,” kata Irwan.
Ia menjelaskan, anak-anak saat ini tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan teknologi digital. Karena itu, berbagai konten yang mereka konsumsi melalui media sosial ikut memengaruhi cara berpikir, sikap, hingga pembentukan karakter.
Mengacu pada berbagai hasil survei mengenai penggunaan internet di Indonesia, Irwan menyebut sebagian besar pengguna media sosial berasal dari kalangan anak-anak dan remaja. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan konten yang edukatif.
Ia mengingatkan bahwa ruang digital masih dipenuhi berbagai konten yang tidak selalu memberikan nilai positif bagi perkembangan anak.
“Anak-anak kita juga sangat butuh publik figur yang memberikan teladan baik. Jangan sampai di depan terlihat baik, berpendidikan baik, tapi korupsi misalnya,” ujarnya.
Karena itu, Irwan mengajak tokoh publik, kreator konten, dan seluruh pelaku industri digital untuk ikut bertanggung jawab menghadirkan konten yang mendidik serta memberikan keteladanan bagi generasi muda.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Kejujuran
Selain menyoroti pengaruh media sosial, Irwan juga menekankan pentingnya membangun karakter, khususnya nilai kejujuran dan kepatuhan terhadap aturan, sejak usia dini.
Mantan guru dan dosen tersebut membagikan pengalamannya saat mengajar di SMP Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Saat itu, ia menerapkan kebijakan melarang siswa SMP membawa sepeda motor ke sekolah.
Menurut Irwan, kebijakan tersebut sempat menuai penolakan, baik dari siswa maupun orang tua, karena sebagian keluarga menghadapi keterbatasan dalam mengantar anak ke sekolah dan transportasi umum belum memadai.
“Kita juga sadar itu, semua siswa dan orang tuanya berbeda kemampuan. Ada yang bisa mengantar tapi juga ada yang terbatas karena kerja, jadi orang tua tidak bisa mengantar,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan tersebut bukan sekadar melarang siswa membawa kendaraan, melainkan membangun budaya disiplin, kejujuran, dan kepatuhan terhadap hukum sejak dini.
Menurutnya, siswa SMP yang masih berusia di bawah ketentuan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), sehingga perlu dibiasakan menaati aturan demi keselamatan mereka.
“Tapi substansi dari kebijakan yang kita buat waktu itu adalah untuk supaya anak-anak kita taat aturan, tidak menerobos. Mereka kan masih di bawah umur, jadi belum ber-SIM,” tutur Irwan.
Irwan berharap sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, serta ruang digital dapat memperkuat pendidikan karakter anak. Dengan dukungan keteladanan dari seluruh elemen, termasuk para tokoh publik dan kreator konten, pendidikan di Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan bertanggung jawab.