Busyro Muqoddas Minta Nasyiatul ‘Aisyiyah Perkuat Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa Sidang Pra Muktamar ke-15 Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah harus menjadi momentum memperkuat kepemimpinan yang berlandaskan moralitas konstitusi, nilai-nilai Islam, dan integritas.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Sidang Pra Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah di Aula Gedung Ahmad Dahlan, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Busyro, muktamar bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang untuk memperkokoh komitmen dalam menjalankan amanah kepemimpinan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Muktamar semakin menyadarkan kita untuk bersikap istiqamah atau konsisten dalam menghadapi segala konsekuensi ketika mengemban misi kepemimpinan,” ujarnya.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, Busyro menekankan bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah harus dibangun secara kolektif dan berpijak pada nilai-nilai Islam.
“Setiap kepemimpinan harus diikat oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah,” tegasnya.
Ia menambahkan, Nasyiatul ‘Aisyiyah bersama seluruh organisasi otonom Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk melahirkan kader-kader pemimpin yang amanah dan berintegritas.
Busyro juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menempatkan amanah kepada orang yang memiliki kompetensi. Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan dalam membangun kepemimpinan yang berakhlak mulia.
“Nasihat Rasulullah itu mengajarkan pentingnya nilai-nilai akhlakul karimah yang tetap relevan dengan kondisi saat ini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Busyro turut menyoroti berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, termasuk meningkatnya konflik rumah tangga akibat pinjaman daring (pinjol) dan judi online.
“Penyebabnya karena pinjaman dan judi online. Sebagian dari para korban juga banyak yang melaporkan persoalannya kepada Muhammadiyah untuk meminta bantuan,” ungkapnya.
Menurut Busyro, fenomena tersebut merupakan salah satu dampak degradasi moral yang perlu dijawab melalui penguatan karakter dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Karena itu, ia mengingatkan agar kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang berlandaskan etos Persyarikatan.
“Muhammadiyah sangat mengharapkan kepemimpinan yang diwujudkan dalam aksi dan amalan konkret sebagaimana etos Muhammadiyah, yaitu iman, ilmu, dan amal,” ujarnya.
Busyro juga mendorong agar Muktamar Nasyiatul ‘Aisyiyah mengangkat isu-isu strategis, termasuk penguatan kepemimpinan perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Perempuan adalah tiang negara. Baik buruknya suatu negara sangat ditentukan oleh karakter perempuan-perempuannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama lebih dari satu abad Muhammadiyah mampu memberikan kontribusi bagi bangsa melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial karena konsisten menjaga amanah Persyarikatan.
“Hal inilah yang harus diteruskan oleh generasi Muhammadiyah dan organisasi otonomnya, termasuk Nasyiatul ‘Aisyiyah,” katanya.
Menutup amanatnya, Busyro berharap Muktamar Nasyiatul ‘Aisyiyah mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah, menjaga marwah Persyarikatan, serta membawa organisasi semakin berkemajuan.
“Berbekal niat yang lurus, semoga Muktamar Nasyiatul Aisyiyah dapat melahirkan pemimpin yang mampu menghadirkan keberhasilan dalam program-program selanjutnya,” pungkasnya.