Salmah Orbayinah: Beasiswa Kader Jadi Investasi Masa Depan Muhammadiyah

Salmah Orbayinah: Beasiswa Kader Jadi Investasi Masa Depan Muhammadiyah
Acara Pentasyarufan Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026 di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Kaderisasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci bagi Persyarikatan Muhammadiyah untuk menyiapkan generasi penerus yang unggul, berintegritas, dan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah menyampaikan hal tersebut dalam agenda Pentasyarufan Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026 yang digelar di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah bersama Lazismu Pusat dan PT GKBI Investment itu memberikan beasiswa kepada 356 kader Persyarikatan dengan total nilai Rp3 miliar.

Salmah mengapresiasi program tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan sekaligus investasi jangka panjang dalam kaderisasi Muhammadiyah.

“Beasiswa ini tentunya bukan sekadar hak, tetapi juga sebuah amanah yang besar. Bagi Muhammadiyah, ini adalah investasi yang luar biasa untuk mempersiapkan kader-kader yang unggul dan berkualitas,” ujar Salmah.

Empat Kompetensi Kader

Menurut Salmah, penerima beasiswa tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Kader Muhammadiyah juga perlu memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Ia menyebut setidaknya ada empat kompetensi yang perlu dikembangkan kader, yakni pendidikan, keagamaan, kemasyarakatan, dan kepemimpinan.

Penguasaan bidang keilmuan menjadi penting karena kader diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Mereka juga dituntut mampu mengimplementasikan ilmu untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Para kader harus mampu menguasai bidang studinya secara total dan tidak setengah-setengah. Hal ini karena kader Muhammadiyah harus hadir di masyarakat, mendampingi masyarakat, dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada,” tegasnya.

Pesan Ahmad Dahlan untuk Kader

Salmah juga mengingatkan kembali pesan KH Ahmad Dahlan mengenai pentingnya mengembalikan ilmu dan keahlian untuk kepentingan Persyarikatan.

“Jadilah guru, tapi kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah,” ungkapnya mengutip pesan KH Ahmad Dahlan.

Menurut Salmah, pesan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang kader tidak berhenti ketika berhasil menyelesaikan pendidikan atau memperoleh profesi tertentu.

Ilmu, keahlian, dan pengalaman yang diperoleh kader diharapkan kembali dikontribusikan untuk memperkuat gerakan Muhammadiyah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia menilai proses kaderisasi harus membentuk manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang kuat.

Integritas Jadi Fondasi Pengabdian

Salmah kemudian menekankan pentingnya meneladani sifat Rasulullah SAW dalam menjalankan amanah kepemimpinan dan pengabdian. Nilai tersebut antara lain tercermin melalui sifat siddiq, tabligh, amanah, dan fathanah (STAF).

“Minimal harus paham STAF, yaitu siddiq, tabligh, amanah, dan fathanah. Dengan itulah kami berharap dakwah Persyarikatan akan terus mencerahkan. Tingkatkan integritas, karena dengan integritas yang tinggi, Persyarikatan Muhammadiyah akan terus dipercaya oleh masyarakat,” pungkas Salmah.

Menurutnya, integritas menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Persyarikatan. Kader yang memiliki ilmu tanpa integritas berisiko kehilangan orientasi dalam menjalankan amanah.

Karena itu, program beasiswa tidak hanya dipandang sebagai dukungan finansial untuk menyelesaikan pendidikan. Program tersebut juga menjadi bagian dari investasi kaderisasi agar penerima manfaat mampu tumbuh menjadi kader yang berilmu, berkarakter, dan siap mengabdi.

Pada akhirnya, keberhasilan kader tidak hanya diukur dari prestasi akademik atau karier profesional. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana ilmu dan kompetensi tersebut dapat dikembalikan kepada masyarakat serta memperkuat dakwah dan amal usaha Muhammadiyah.

Dengan kaderisasi yang berkelanjutan, Persyarikatan diharapkan terus memiliki generasi penerus yang mampu menerima estafet kepemimpinan dan melanjutkan perjuangan Muhammadiyah dengan ilmu, integritas, serta kepemimpinan yang kuat.