Soedirman, Panglima Besar TNI atau Guru Muhammadiyah?

Tahukah Anda, ternyata Jenderal Soedirman pernah berprofesi sebagai guru di sekolah Muhammadiyah? Bahkan tak tanggung-tanggung, dirinya juga menjadi kepala sekolah. Begini sejarahnya.

Soedirman, Panglima Besar TNI atau Guru Muhammadiyah?
Jendral Soedirman atau Raden Soedirman/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Kegiatan belajar mengajar salah satu kelas di Sekolah Rakyat, Kepatihan, Cilacap, Jawa Tengah harus berhenti sejenak, karena kedatangan dua orang tamu. Dengan ditemani oleh wali kelas, kedua tamu tersebut masuk, lalu berdiri di depan puluhan murid kelas lima itu. 

Salah seorang tamu itu lantas maju mendekati meja paling depan sambil menyoroti sekeliling kelas, kemudian mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya. 

"Saya Soedirman, dan ini Pak Isdiman." kata pria yang mengenakan kemeja putih kusam, serta bercelana panjang berwarna krem. 

Semua murid tampak serius mendengarkan pemaparan seorang tamu tersebut. 

"Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nippon," sambungnya. 

"Saya minta pangestu semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara," ucap orang yang kelak menjadi panglima besar TNI pertama. 

Para murid di kelas pun serentak menjawab, "Nggih, Pak!". 

Soedirman mengakhiri kunjungannya dengan menyalami semua murid sambil meninggalkan ruangan. Sementara Isdiman yang tak berbicara sepatah kata mengikuti di belakangnya. 

Demikian kisah itu diceritakan oleh Soedirman Taufik kepada Tempo yang dimuat dalam bukunya "Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir" (2013). Adapun kejadian tersebut dialaminya sekitar 72 tahun silam. 

Menurut pengakuan dia pula, Soedirman dan Isdiman juga berpamitan ke sejumlah sekolah lainnya, sebelum bergabung dengan tentara sukarela bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (PETA). 

"Pak Dirman memang guru," sebut Taufik. 

Tahukah Anda, ternyata Jenderal Soedirman pernah berprofesi sebagai guru di sekolah Muhammadiyah? Bahkan tak tanggung-tanggung, dirinya juga menjadi kepala sekolah. Begini sejarahnya. 

Dilansir dari dalam Majalah Tempo, Senin, 12 November 2012, Jenderal Soedirman adalah lulusan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Parama Wiworotomo, lembaga setingkat SMP, pada tahun 1934. 

Lulus dari MULO, anak dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem itu kemudian melanjutkan pendidikan di Hollandsche Indische Kweekschool, sekolah guru yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah. Namun sempat terhenti, karena kekurangan biaya.

Akhirnya, Soedirman memutuskan kembali ke Cilacap setahun silam, tepatnya tahun 1936. Tiba di Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas itu, Soedirman lantas bertemu tokoh Muhammadiyah di Cilacap, Mohammad Kholil. Berkat sang guru, Soedirman diangkat menjadi guru sekolah dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.  

Gaji bulanan Soedirman kala itu sangatlah kecil, yaitu 3 gulden atau sekitar Rp. 210.000 uang zaman sekarang. Meski demikian, guru kelahiran Purbalingga ini tetap mengajar dengan giat. 

Cara Soedirman mengajar dinilai tak monoton, kadang dibumbui dengan canda, bahkan kerap kali diselingi pesan agama dan nasionalisme. Hal itu diungkapkan oleh salah satu muridnya, Marsidik, kepada Sardiman sebagaimana dimuat dalam buku "Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman" (2008).  

Berkat dedikasinya, beberapa tahun berselang, Sudirman dipercaya untuk menjadi kepala sekolah, walaupun tidak memiliki ijazah guru. Dari hanya 3 gulden, gaji bulanan Soedirman pun melejit hingga empat kali lipat, saat jadi kepala sekolah. 

Ketika menjabat sebagai kepala sekolah, Sudirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, hingga penyelesai konflik antara guru-guru di sekolah. Selain itu, ia pun aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, ia masih tetap mendedikasikan dirinya untuk mengajar. Pada tahun 1944, bapak yang dikarunai tiga orang putra dan empat orang putri ini bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. 

Pria yang bernama asli Raden Soedirman ini wafat pada 29 Januari 1950 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Sang Jenderal pun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 10 Desember 1964 oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1997, Soedirman dianugerahi gelar Jenderal Besar Anumerta oleh Soeharto.

Jenderal Soedirman saat dilantik menjadi Panglima Besar TNI oleh Presiden Soekarno/ Foto: Perpusnas.

Jenderal Soedirman saat dilantik menjadi Panglima Besar TNI oleh Presiden Soekarno/ Sumber: Perpusnas.

Adapun gelar Jendral Besar Anumerta hanya dimiliki oleh tiga orang saja di Indonesia hingga saat ini. Ketiga Jenderal tersebut adalah Jenderal Besar Soedirman, Jenderal Besar AH. Nasution dan Jenderal Besar Soeharto. Nah, Itulah kisah Jendral Soedirman ketika berprofesi sebagai guru Muhammadiyah yang perlu Anda ketahui. (Fachri Septian)