Uhamka Dorong PAUD Holistik Integratif Jadi Pilar Wajib Belajar 13 Tahun

Uhamka Dorong PAUD Holistik Integratif Jadi Pilar Wajib Belajar 13 Tahun
FKIP Uhamka menggelar Seminar Hari Pendidikan Nasional 2026 bertema “Pengembangan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUDHI) sebagai Pilar Wajib Belajar 13 Tahun untuk Menyongsong Generasi Emas Indonesia” di Aula Ahmad Dahlan FKIP Uhamka dan daring melalui Zoom Meeting, Senin (11/5). Foto: Uhamka.

TVMU.TV - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) mendorong penguatan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUDHI) sebagai fondasi penting dalam program wajib belajar 13 tahun untuk menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Hari Pendidikan Nasional 2026 bertema “Pengembangan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUDHI) sebagai Pilar Wajib Belajar 13 Tahun untuk Menyongsong Generasi Emas Indonesia” yang digelar secara luring di Aula Ahmad Dahlan FKIP Uhamka dan daring melalui Zoom Meeting, Senin (11/5).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi FKIP Uhamka bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) dan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) FKIP Uhamka dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026.

Dekan FKIP Uhamka, Purnama Syae Purrohman, mengatakan seminar tersebut menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat pemahaman dan implementasi konsep PAUDHI di lingkungan pendidikan anak usia dini.

“Seminar hari ini merupakan rangkaian agenda dalam menyambut Hardiknas 2026 dengan mengangkat pembahasan tentang PAUDHI. FKIP memiliki Prodi PG PAUD dalam mendukung pengembangan wawasan dan pengetahuan PAUDHI di kalangan mahasiswa dan para dosen sehingga bisa diterapkan dan diimplementasikan di masyarakat,” ujar Purnama.

Menurutnya, pengembangan pendidikan anak usia dini yang holistik dan integratif menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter, kemampuan sosial, hingga kesiapan belajar anak sejak usia dini.

Seminar tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan, di antaranya Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI Biyanto, Direktur PAUD Kemendikdasmen RI Kurniawan, Direktur SEAMEO CECCEP Vina Adriany, serta Sekretaris Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah DKI Jakarta Yuyun Afinda.

Dalam kesempatan tersebut, Biyanto menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan PAUDHI sebagai bagian dari implementasi program wajib belajar 13 tahun.

“Keberadaan perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam mendukung pengajaran PAUDHI ini, terutama Uhamka yang memiliki Program Studi Pendidikan Guru PAUD, dan dapat mendukung program wajib belajar 13 tahun, karena PAUD sangat penting sebagai media implementasi dan pendidikan karakter bagi anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendidikan anak usia dini menjadi tahap krusial dalam membangun karakter dan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Konsep PAUDHI sendiri menekankan pengembangan anak secara menyeluruh, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, hingga perlindungan anak.

Sementara itu, Yuyun Afinda berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan anak usia dini dapat memperkuat kualitas layanan pendidikan di tingkat PAUD.

“Melalui kegiatan ini, semoga PAUD-PAUD NA dan Uhamka dapat berkembang serta memberikan dampak untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Kami juga mengajak para civitas akademika di PG PAUD Uhamka untuk menjadi pengajar dalam memajukan dan menghidupkan PAUD-PAUD tersebut,” kata Yuyun.

Melalui seminar tersebut, FKIP Uhamka menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul di masa depan.