UM Palembang Gelar Pelatihan Geotagging untuk Tingkatkan Kepatuhan Pengelolaan Hutan

UM Palembang Gelar Pelatihan Geotagging untuk Tingkatkan Kepatuhan Pengelolaan Hutan
UM Palembang menggelar kegiatan Pengembangan Kapasitas dan Kompetensi Personil Land and Forestry Berbasis Teknologi Geotagging bagi pemenuhan kewajiban pemegang PPKH atas nama SKK Migas–Medco E&P Grissik Ltd di Aula KH. Faqih Usman Lantai 7, Rabu (10/12). Foto: UM Palembang.

TVMU.TV - Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang memperkuat peran akademisi dalam isu lingkungan hidup melalui kegiatan Pengembangan Kapasitas dan Kompetensi Personil Land and Forestry Berbasis Teknologi Geotagging bagi pemenuhan kewajiban pemegang PPKH atas nama SKK Migas–Medco E&P Grissik Ltd.

Kegiatan ini digelar di Aula KH. Faqih Usman Lantai 7 pada Rabu (10/12), menghadirkan perwakilan kampus, pemerintah, dan industri energi.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor II Sri Rahayu dan Wakil Rektor III Eko Ariyanto. Hadir pula Ketua Pusat Studi Lingkungan Berkelanjutan UM Palembang sekaligus koordinator acara Jun Harbi, Head Field Relations Community Enhancement Medco Ari Wahyudi, perwakilan SKK Migas Sumbagsel Muhammad Irvan, serta Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan RHL Dinas Kehutanan Sumsel, Oscar Devi.

Dalam sambutannya, Jun Harbi menegaskan bahwa kepercayaan SKK Migas–Medco kepada UM Palembang berangkat dari rekam jejak kampus yang telah terakreditasi unggul dan menjadi perguruan tinggi terbaik di Sumatera Selatan.

“Kami percaya diri bisa menjadi mitra terbaik Medco Energi dan SKK Migas, karena kampus ini mempunyai akademisi terbaik dan berpengalaman sesuai bidang. Teknologi geotagging yang kita dorong saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan pengelolaan lahan dan hutan yang akuntabel,” ujarnya.

Wakil Rektor III, Eko Ariyanto menambahkan bahwa geotagging merupakan instrumen penting dalam memastikan kepatuhan perusahaan terhadap Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

“Ketika perusahaan masuk kawasan hutan, ada tanggung jawab pemulihan dan pelaporan yang harus akurat, dapat dilacak, dan bisa dipertanggungjawabkan. Geotagging menjamin transparansi itu,” jelasnya.

UM Palembang menargetkan agar agenda pengembangan kapasitas ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kampus mendorong terbentuknya jejaring riset, technical assistance, hingga program monitoring berkelanjutan yang dapat memperkuat kontribusi akademisi dalam pengelolaan lingkungan.

Medco E&P Grissik, sebagai perusahaan yang beroperasi di wilayah Sumsel dan sering bersinggungan dengan kawasan hutan, menegaskan komitmennya terhadap peningkatan kompetensi SDM.

“Kami tidak mau bekerja dengan pola lama. Semua harus berbasis data dan traceable. Melalui kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Palembang kami ingin memastikan personil Land and Forestry memahami standar teknis yang benar dan terkini,” kata Ari Wahyudi.

Pelatihan kali ini berfokus pada praktik penggunaan geotagging untuk pemetaan kondisi lahan, titik reklamasi, hingga proses rehabilitasi kawasan hutan. Peserta dituntut tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu mengimplementasikannya langsung di lapangan.