Agus Taufiqurrahman: Orang Cerdas adalah yang Selalu Mengingat Kematian dan Menebar Manfaat
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, mengajak umat Islam untuk menjadikan kesadaran akan kematian sebagai motivasi dalam memperbanyak amal saleh dan kemanfaatan bagi sesama.
Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir, Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Dalam khutbahnya, Agus mengutip hadis riwayat Imam At-Tirmidzi yang menjelaskan jawaban Rasulullah SAW ketika para sahabat bertanya tentang siapa manusia yang paling cerdas.
“Ia yang banyak ingat akan kematian, maka ia akan mempersiapkan kehidupan sesudah kematian dengan baik,” tegas Nabi Muhammad SAW.
Menurut Agus, hadis tersebut mengandung pesan mendalam bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan memiliki batas waktu yang tidak diketahui oleh siapa pun.
“Tidak satu pun di antara kita yang mengetahui kapan batas waktu dipanggil oleh Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara tegas menyatakan setiap manusia akan mengalami kematian. Ketika ajal tiba, tidak ada seorang pun yang mampu menunda ataupun mempercepat waktunya.
Karena itu, kata Agus, manusia perlu senantiasa mempersiapkan diri dengan amal terbaik, mengingat kematian dapat datang kapan saja tanpa diduga.
Dunia Tempat Singgah, Bukan Tujuan Akhir
Meski mengingat kematian penting, Agus menegaskan bahwa umat Islam tetap harus menjalani kehidupan dunia secara optimal. Dunia harus diisi dengan berbagai amal kebajikan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi, melainkan fase sementara sebelum memasuki kehidupan akhirat.
“Dunia ini harus kita jadikan kehidupan yang baik. Tetapi kita diingatkan bukan tempat tinggal selamanya. Dunia ini adalah tempat yang akan kita tinggalkan,” terang Agus.
Menurutnya, kesadaran tersebut akan mendorong seseorang untuk lebih bijak memanfaatkan waktu, harta, ilmu, dan berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.
Husnul Khatimah Dibangun Lewat Kemanfaatan
Agus mengatakan setiap manusia tentu berharap memperoleh husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik. Salah satu jalan untuk meraihnya adalah dengan terus menebarkan manfaat selama hidup.
Ia mengajak umat Islam melakukan refleksi diri mengenai sejauh mana keberadaan mereka telah memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saat ini kita di posisi telah memberi kemanfaatan apa kepada orang-orang di sekitar kita? Telah memberi kemanfaatan kepada orang-orang yang membutuhkan lewat jalur diri kita. Karena Allah menitipkan itu kepada kita,” tegasnya.
Menurut Agus, seluruh nikmat yang dimiliki manusia, baik berupa harta, jabatan, ilmu pengetahuan, maupun kesempatan hidup, sejatinya merupakan amanah yang harus digunakan untuk membantu sesama.
Karena itu, ia mengingatkan agar setiap Muslim tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi, tetapi juga berupaya menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Momentum Memperbaiki Diri
Menutup khutbahnya, Agus mengajak jamaah memanfaatkan sisa usia yang diberikan Allah SWT untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada sesama.
Ia menegaskan bahwa kesempatan hidup merupakan anugerah yang harus digunakan sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan jejak manfaat bagi orang lain.
“Mari kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Di saat Allah memberi kesempatan hidup di dunia ini, kita terus memberi kemanfaatan,” pungkas Agus.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecerdasan sejati dalam Islam tidak hanya diukur dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari kesadaran mempersiapkan kehidupan akhirat melalui amal saleh dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.