Anwar Abbas dan Fata Zaki Beberkan Dilema Pangan Nasional hingga Solusi Ekosistem SUMU
TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyoroti dilema kronis sektor pertanian nasional yang dipicu oleh tingginya biaya produksi serta belum adanya jaminan harga jual bagi petani di tingkat tapak.
Persoalan mendasar tersebut dikupas tuntas oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., bersama Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo, Fata Zaki, dalam program Bincang Ekonomi Islam di TVMu pada Sabtu, 19 September 2026.
Fata Zaki mengungkapkan bahwa para petani di daerah sentra hortikultura seperti Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, berada dalam posisi yang sangat tertekan akibat kebijakan penstabilan harga pangan yang kerap menekan harga di tingkat produsen. Kenaikan harga pupuk dan saprodi membuat biaya panen tak sebanding dengan harga jual, hingga memicu fenomena petani enggan memanen hasil buminya.
“Pertanian yang saya rasakan untuk daerah Wonosobo khususnya itu kalau dipikir secara mendalam itu posisi yang sangat-sanga berat karena berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang selalu berharap segala harga pangan itu murah,” ungkap Fata dari Wonosobo.
Menanggapi fenomena tersebut, Anwar Abbas menilai sektor pertanian nasional akan terus kehilangan daya pikat bagi generasi muda apabila rasio pendapatan (total revenue) tidak mampu melampaui total biaya produksi (total cost).
“Kalau seandainya kita ingin membuat pendapatan semakin menarik bagi anak-anak muda, maka total revenue harus jauh lebih besar daripada total cost,” ujar Anwar Abbas.
Sebagai langkah terobosan, Muhammadiyah mendorong penguatan pilar ekonomi melalui Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU). Salah satu implementasinya ditunjukkan lewat kunjungan studi banding 52 pelaku usaha lintas sektor—termasuk delapan delegasi asal Wonosobo—ke Kota Yiwu, Tiongkok, untuk mempelajari transfer teknologi produksi, efisiensi ekosistem UMKM, dan etos kerja global.
Anwar menegaskan bahwa penguatan jaringan bisnis dan keterbukaan belajar dari kemajuan negara lain merupakan pengejawantahan dari pilar ketiga dakwah Muhammadiyah yang dirumuskan sejak Muktamar ke-47 di Makassar.
“Bagaimana sekarang dakwah Muhammadiyah ke sisi ekonominya. Pendiri Muhammadiyah adalah seorang pengusaha dan jiwa-jiwa itu yang sangat dominan untuk mengawali langkah-langkah untuk kita lakukan tersebut,” kata Anwar.
