Muhammadiyah Terapkan Pemilihan Pemimpin Tanpa Garis Keturunan Sejak Awal Berdiri

Muhammadiyah Terapkan Pemilihan Pemimpin Tanpa Garis Keturunan Sejak Awal Berdiri
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin dalam acara Ruang Publik TVMU di Jakarta pada Sabtu, 3 September 2026. Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan di dalam tubuh organisasi Islam modern ini senantiasa berpijak pada prinsip rasionalitas, meritokrasi, dan musyawarah, alih-alih mengandalkan pertalian darah atau garis keturunan.

Prinsip transparan tersebut disampaikannya dalam acara Ruang Publik TVMU di Jakarta pada Sabtu, 3 September 2026. Izzul menjelaskan bahwa tradisi kepemimpinan rasional ini telah mengakar kuat sejak Muhammadiyah pertama kali didirikan.

Sebagai bukti historis, pasca wafatnya sang pendiri K.H. Ahmad Dahlan, tongkat estafet kepemimpinan tidak dialihkan kepada keturunannya, melainkan diamanahkan kepada K.H. Ibrahim. Pemilihan tersebut didasarkan sepenuhnya pada kapasitas personal sang ulama besar yang merupakan alumni Makkah, bukan karena faktor darah biru atau kasta tertentu.

"Mencari pemimpin yang memang dianggap memiliki kapasitas yang tepat untuk memimpin Muhammadiyah dan itulah yang ditunjuk siapapun yang bersangkutan tidak mengenal keturunannya siapa begitu," ujar Izzul.

Konsistensi pola pemilihan ini terus berlanjut lintas generasi. Sebagai organisasi yang lahir di tanah Jawa, estafet kepemimpinan tertinggi Muhammadiyah bahkan pernah dipegang oleh figur-figur dari luar Jawa, seperti dari Sumatra, tanpa memandang latar belakang ikatan keluarga.

Dalam sistem internal organisasi—mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah, hingga ranting—proses suksesi kepemimpinan ditempuh melalui mekanisme musyawarah. Pendekatan ini dinilai efektif guna meredam potensi konfrontasi langsung (head-to-head) antarkandidat.

Meski dinamika jelang pemilihan tetap ada, sistem musyawarah mufakat terbukti mampu menjaga soliditas organisasi sehingga proses transisi kekuasaan berlangsung relatif tanpa gejolak berarti.

"Ini saya kira yang menyebabkan akhirnya Muhammadiyah dalam proses pemilihan pimpinan itu relatif tidak memunculkan gejolak, dinamika tetap ada. Saya kira ini penting juga, kita juga tidak ingin terus enggak ada yang berminat," pungkas Izzul, menegaskan bahwa penerapan metode tersebut telah memenuhi standar objektivitas dan nilai-nilai demokratis yang sehat.