Barry Adhitya Pimpin Lazismu Pusat, Siapkan Transformasi Digital dan Penguatan Ekosistem Ekonomi Syariah
TVMU.TV - Lazismu Pusat resmi melakukan pergantian kepemimpinan dengan menetapkan Barry Adhitya sebagai Direktur Utama Lazismu Pusat periode 2026–2027. Pergantian tersebut merupakan bagian dari penyegaran organisasi (tour of duty) untuk memperkuat tata kelola kelembagaan sekaligus mempercepat transformasi digital dan pengembangan ekosistem ekonomi syariah.
Serah terima jabatan dari Direktur Utama sebelumnya, Ibnu Tsani, kepada Barry Adhitya berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Prosesi tersebut disaksikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, Hajriyanto Y. Thohari, Nizam Burhanuddin, serta jajaran pimpinan Muhammadiyah dan Lazismu se-Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Lazismu juga meluncurkan logo Milad ke-24 yang mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”, sebagai komitmen memperkuat ekosistem zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZISKA) yang terintegrasi dan berdampak lebih luas bagi masyarakat.
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, mengatakan pergantian direksi merupakan bagian dari mekanisme penyegaran organisasi yang lazim dilakukan untuk meningkatkan kinerja lembaga.
Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, menegaskan komitmennya melanjutkan agenda strategis yang telah dirancang dalam rencana strategis (Renstra) Lazismu, terutama pada aspek penghimpunan, pendistribusian, pendayagunaan, pelaporan, serta percepatan transformasi digital.
“Dalam kesempatan ini, upaya mengoptimalkan peluang jejaring Lazismu se-Indonesia untuk meningkatkan tata kelola layanan dan memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan pendekatan atau metode pengetahuan yang didasarkan pada fakta, observasi lapangan, dan pengalaman langsung sehingga ada pembelajaran yang bermakna di tengah perubahan teknologi informasi yang begitu cepat,” kata Barry.
Menurut Barry, kondisi ekonomi yang penuh tantangan saat ini menuntut Lazismu memiliki strategi yang lebih adaptif. Karena itu, ia menyiapkan empat pilar utama penguatan organisasi.
Pilar pertama adalah kepatuhan syariah melalui penguatan sistem pelaporan kepada donatur, mitra, Kementerian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pilar kedua berfokus pada pengembangan program yang berdampak dan berkelanjutan berdasarkan kebutuhan masyarakat berbasis data. Barry juga mendorong kantor layanan masjid tidak hanya menjadi pusat penghimpunan zakat, tetapi juga mampu mendata asnaf dan menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran.
Pilar ketiga ialah integrasi teknologi informasi agar layanan Lazismu semakin mudah diakses masyarakat.
Sementara pilar keempat menitikberatkan pada peningkatan kompetensi dan integritas para amil zakat.
“Sekarang amil dalam regulasi untuk tugas dan tanggung jawabnya perlu dikuatkan dengan pengujian standar kompetensi. Terkait ini juga bahwa integritas dan kompetensi perlu dilengkapi dengan kerendahan hati dan sikap untuk peka dan peduli secara lebih dalam,” ujarnya.
Barry juga memohon dukungan seluruh pemangku kepentingan agar amanah yang diembannya dapat dijalankan dengan baik.
“Sekali lagi, atas amanah ini, mohon dukungannya dari semua pihak dan mitra-mitra Lazismu. Ini tugas berat bagi kami. Terakhir tadi sudah ditayangkan logo Milad Lazismu ke-24, sebuah usia sosial Lazismu untuk bangkit membangun kemandirian.”
Sebelum dipercaya memimpin Lazismu Pusat, Barry telah menjadi anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat sejak 2015. Ia juga dikenal memiliki pengalaman panjang dalam bidang kemanusiaan, kesehatan, kebencanaan, serta pengelolaan program pemberdayaan masyarakat di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Direktur Utama Lazismu periode 2024–2026, Ibnu Tsani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Muhammadiyah, Lazismu daerah, dan para mitra atas dukungan selama masa kepemimpinannya.
“Tiga tahun merupakan waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan semua pihak yang mendukung program-program Lazismu selama ini,” katanya.
Dalam sambutannya, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan merupakan bagian dari implementasi pedoman baru tata kelola Lazismu yang telah ditetapkan oleh PP Muhammadiyah.
“Perubahan ini langkah progresif, oleh karena itu terima kasih kepada semua jajaran Lazismu di Indonesia selama ini. Kita menyadari bahwa apa yang diperoleh dalam dana ZISKA untuk mengeluarkannya tidak mudah, apalagi membelanjakannya,” jelasnya.
Hilman menilai penguatan manajemen risiko menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya penghimpunan dana ZISKA dan kompleksitas pengelolaan organisasi.
“Maka manajemen risiko dalam Renstra Lazismu yang baru menjadi penting mengingat persiapan audit membutuhkan itu. Karena saya harus menjaga risiko uangnya semakin besar Lazismu tentu sumber daya manusianya semakin banyak, ini suatu keniscayaan,” pungkasnya.
Ia berharap Lazismu dapat menjadi salah satu pilar Muhammadiyah dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional melalui tata kelola yang profesional, sistem audit yang kuat, serta pengembangan kemitraan strategis dengan berbagai sektor.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, turut menyampaikan apresiasi kepada Ibnu Tsani atas dedikasinya selama tiga tahun terakhir sekaligus mengucapkan selamat kepada Barry Adhitya.
“Tidak ada yang abadi di dunia ini, yang pasti Lazismu menyambut sebuah perubahan yang di dalamnya ada disrupsi. Perubahan itu harus dihadapi dengan lebih solid dan terintegrasi. Adanya perubahan pimpinan di eksekutif bagian dari tour of duty, tidak ada hal baru, yang abadi adalah perubahan itu sendiri,” tandasnya.
Mujadid menambahkan, salah satu agenda penting yang tengah dihadapi Lazismu adalah proses audit keuangan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) serta audit syariah sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola lembaga.