Haedar Nashir Ajak Umat Bangun Peradaban Islam Lewat Ilmu, Akhlak, dan Transformasi
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam membangun kembali peradaban Islam yang maju melalui kemandirian, persatuan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta transformasi nilai tauhid dalam kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan dalam Ceramah Tarawih di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Jawa Barat, Ahad (8/3) malam.
Haedar menegaskan, kebangkitan peradaban Islam tidak cukup hanya dengan mengingat kejayaan masa lalu. Umat Islam, menurutnya, perlu melakukan langkah rekonstruksi sekaligus transformasi berbasis nilai keimanan.
“Peradaban Islam memiliki nilai dan pondasi yang kokoh untuk direkonstruksi, akan tetapi tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah – maka tak cukup rekonstruksi, tapi juga transformasi,” ujar Haedar.
Ia menjelaskan, nilai tauhid sebagai fondasi kehidupan umat Islam tidak boleh berhenti pada tataran normatif. Nilai tersebut harus menjadi pedoman hidup yang tercermin dalam pikiran, sikap, dan tindakan.
Menurutnya, ketauhidan yang murni akan membentuk pribadi muslim yang kuat, tidak hanya dalam aspek iman, tetapi juga dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan sains. Bekal tersebut menjadi modal penting untuk mengelola kehidupan sekaligus membangun peradaban yang berkemajuan.
Selain itu, Haedar menilai pembangunan peradaban Islam membutuhkan transformasi ilmu pengetahuan yang lebih luas. Ia menekankan bahwa tradisi keilmuan dalam Islam tidak boleh terbatas pada kajian fikih semata.
“Bukan ilmu fikih semata, tetapi juga sains pada umumnya, termasuk sains kehidupan itu terus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tradisi ilmu harus berkembang hingga ke lapisan masyarakat muslim paling kecil. Ilmu tidak boleh hanya berputar di kalangan elite agama.
“Kaum muslimin tidak cukup berpikir demagog – berpikir serba dogmatis, begitu juga para tokohnya yang bisa membakar semangat jihad tetapi tidak bisa membangun peradaban. Bahkan jihad dalam makna yang luas,” imbuhnya.
Tak hanya ilmu pengetahuan, Haedar juga menekankan pentingnya rekonstruksi mentalitas berbasis akhlak. Ia menilai akhlak tidak hanya dipahami sebagai norma moral pribadi, tetapi juga harus menjadi akhlak publik yang hadir dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, nilai-nilai kebaikan tidak boleh hanya tampak di ruang ibadah, tetapi juga tercermin dalam aktivitas masyarakat di ruang publik. Meski demikian, hal tersebut tidak boleh membuat seorang muslim merasa paling suci.
Guru Besar Sosiologi itu menjelaskan bahwa peradaban dibangun di atas kebudayaan luhur yang berkembang dalam masyarakat. Unsur peradaban Islam, kata dia, tidak hanya menyangkut aspek spiritual, tetapi juga mencakup berbagai sistem kehidupan.
Peradaban yang maju membutuhkan sistem yang kompleks, mulai dari sistem religi, pengetahuan, seni, teknologi, ekonomi, hingga berbagai pranata sosial lainnya.
“Umat Islam jika ingin maju baik di tingkat dunia maupun di negeri tercinta, selain iman, takwa, dan akhlak yang ditransformasikan tadi bukan yang dogmatis, juga memerlukan instrumen-instrumen dinamis untuk merebut peradaban,” katanya.
Haedar menilai berbagai ketertinggalan umat Islam saat ini harus diatasi secara bertahap. Ia mengakui bahwa kondisi global dan nasional kerap memunculkan keresahan, namun upaya membangun peradaban tidak boleh berhenti.
“Harus dimulai tahap demi tahap. Kita resah dengan keadaan di level nasional maupun global. Kita pandang dunia tidak baik-baik saja, tetapi membangun peradaban tidak boleh berhenti,” ungkapnya.
Ia menegaskan, berbagai upaya membangun peradaban maju yang dilakukan umat Islam, termasuk oleh Muhammadiyah, bukan sekadar respons terhadap kondisi saat ini. Upaya tersebut merupakan proyeksi masa depan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat.