Haedar Nashir Dorong Muhammadiyah Percepat Transformasi Digital Berbasis Pengetahuan dan Budaya

Haedar Nashir Dorong Muhammadiyah Percepat Transformasi Digital Berbasis Pengetahuan dan Budaya
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PP Muhammadiyah dan PT Indosat Tbk di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Muhammadiyah perlu memperkuat dan mengakumulasi berbagai program transformasi digital agar mampu berkembang sebagai organisasi yang semakin modern, maju, dan profesional. Penguatan tersebut dinilai tidak cukup hanya melalui pemanfaatan teknologi, tetapi juga harus ditopang ekosistem pengetahuan, budaya, dan kolaborasi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan hal tersebut dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PP Muhammadiyah dan PT Indosat Tbk di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut Haedar, transformasi organisasi merupakan bagian dari mandat yang telah diletakkan dalam dua muktamar Muhammadiyah sebelumnya. Karena itu, berbagai inisiatif digital yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah perlu dihimpun dan diperkuat agar menghasilkan akselerasi organisasi.

“Hal tersebut sesuai mandat dari dua muktamar yang lalu. Dan insyaAllah, Muhammadiyah secara umum telah menjadi organisasi yang relatif lebih maju, profesional dan modern,” ujarnya.

Haedar mengatakan perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat kekuatan jaringan menjadi semakin penting. Muhammadiyah, kata dia, membutuhkan infrastruktur dan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan serta teknologi berkembang secara terintegrasi.

“Di era post modern atau abad dua puluh satu ini, ditentukan oleh kekuatan-kekuatan jaringan yang menguasai teknologi atau sistem digital. Kekuatan inilah yang sangat menghegemoni dunia,” tuturnya.

Namun, Haedar mengingatkan transformasi digital tidak boleh dimaknai sekadar sebagai adopsi teknologi. Pengembangan teknologi informasi dan AI harus berjalan bersama penguatan sistem pengetahuan dan kebudayaan.

Menurut dia, teknologi tidak dapat diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan fondasi sosial dan budaya masyarakat. Penguasaan teknologi perlu dipadukan dengan kemampuan berpikir, nilai-nilai, serta karakter kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Muhammadiyah Dorong Konvergensi Teknologi dan Budaya

Haedar kemudian mengaitkan tantangan tersebut dengan gagasan Polemik Kebudayaan yang berkembang pada 1930-an. Ia menyebut Sutan Takdir Alisjahbana sebagai salah satu tokoh yang mendorong gagasan kemajuan melalui adopsi pemikiran Barat.

Namun, menurut Haedar, gagasan tersebut kemudian mendapat kritik karena Indonesia dan masyarakat Timur memiliki kekuatan spiritual dan kebudayaan yang tidak dapat dilepaskan dari proses modernisasi.

Karena itu, ia menilai Indonesia membutuhkan pendekatan yang mampu mempertemukan teknologi dan sains dengan nilai spiritualitas serta kebudayaan.

“Maka, diperlukan konvergensi yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dan budaya Timur dengan teknologi, sains, serta nalar. Saya yakin Muhammadiyah dengan gerakan kemajuannya akan mempercepat langkah tersebut,” ujarnya.

Haedar menegaskan upaya tersebut tidak dapat dilakukan Muhammadiyah sendirian. Kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan untuk membangun ekosistem pengetahuan sekaligus mempercepat transformasi cara berpikir masyarakat.

Ia mengingatkan agar jumlah mayoritas tidak menjadi alasan untuk berhenti melakukan pembaruan. Menurutnya, kekuatan demografis harus diikuti dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekosistem yang mendukung kemajuan.

“Ada sebuah logika ‘kasur tua’, dimana mereka merasa menguasai dunia hanya dengan menjadi mayoritas, tapi tertinggal dari nalar, sains, teknologi dan ekosistem. Kita tidak boleh seperti itu,” tegasnya.

Media Sosial Jadi Instrumen Dakwah Kemajuan

Dalam konteks dakwah, Haedar menilai perkembangan media sosial dan media baru dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk mempercepat pembangunan kebudayaan dan ekosistem pengetahuan Muhammadiyah.

Menurutnya, dakwah di era digital tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun nalar, memperluas pengetahuan, dan mendorong masyarakat menghadapi perubahan zaman.

“Maka media sosial dan media baru lainnya perlu digunakan untuk mempercepat langkah kita mebangun strategi kebudayaan, melalui pola dakwah,” katanya.

Karena itu, Haedar memandang transformasi digital sebagai bagian dari tugas strategis Muhammadiyah. Pengembangan teknologi diarahkan bukan sekadar untuk meningkatkan kemampuan menguasai sains dan teknologi, tetapi juga menjaga keterhubungan dengan sistem sosial dan budaya masyarakat.

Transformasi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang mampu memadukan nilai keislaman, pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dalam menghadapi perubahan zaman.